BAB
II
PEMBEHASAN
A.
PERANG
SALIB
1. Pengertian
Perang Salib
Perang Salib berasal dari Bahasa Arab, yaitu حـر كـة
yang berarti suatu gerakan atau barisan, dan صـلـيـبـيـة yang
berarti kayu palang, tanda silang (dua batang kayu yang bersilang.[1]
Perang Salib adalah gerakan umat Kristen
di Eropa yang memerangi umat Muslim di Palestina secara berulang-ulang mulai
abad ke-11 sampai abad ke-13. Perang Salib (1096-1291) terjadi sebagai reaksi
dunia Kristen di Eropa terhadap dunia Islam di Asia, yang sejak 632 M.,
dianggap sebagai pihak “penyerang”, bukan saja di Siria dan Asia kecil, tetapi
juga di Spanyol dan Sisilia.
Perang salib terjadi selama kurang lebih
dua abad. Peristiwa ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang
Kristen terhadap orang Islam, yang kemudian meletusnya Perang Salib ini.
Kebencian ini bertambah setelah dinasti Seljuk dapat merebut Baitul Maqdis pada
tahun 471 H dari kekuasaan Dinasti Fathimiyyah yang berkedudukan di Mesir.
Hingga akhirnya kebijakan yang dikeluarkan oleh Dinasti Seljuk bagi umat
Kristiani yang hendak berziarah kesana dirasakan sangat memberatkan dan
menyulitkan. [2]
2. Latar Belakang
Perang Salib
a. Faktor
Agama
Ini merupakan faktor utama penyulut
berkobarnya perang salib. Salah satu bukti konkritnya, para tentara salib
ketika itu meletakkan symbol salib pada senjata-senjata mereka dan berbagai
barang yang mereka bawa di medan perang.
Dedengkot awal yang menjadi penyeru
utama yang memiliki ide perang salib ialah Paus Urbanus II. Dia dianggap orang
pertama yang bertanggung jawab menyebarluaskan ide tersebut, serta mendorong
agar dikirim ekspedisi militer pertama ke Syam.
Dia telah mengondisikan keadaan
sedemikian rupa, sehingga kemudia segera diadakan pertemuan di kota Clermont,
Perancis. Setelah itu dilanjutkan dengan konferensi tingkat tinggi selama 10
hari yang dihadiri tidak kurang dari 300 pemuka gereja. Pertemuan ini juga dihadiri
para pemimpin politik Negara-negara Eropa.
Pada kesempatan itulah, sang Paus mulai
menggelorakan semangat untuk mulai merencanakan serangan terhadap kaum
muslimin. Selain itu, dia juga memprovokasi para delegasi dengan adanya
penganiayaan yang dilakukan umat Islam terhadap non-Islam di Negara-negara
Timur.
Paus Urbanus juga menjanjikan adanya
pengampunan dosa atas kesalahan-kesalahan masa lalu kepada masyarakat yang ikut
berperang dan menyebarkan berita akan turunnya pertolongan atau mukjizat dari Tuhan
dalam peperangan.[3]
b. Faktor
Ekonomi
Kondisi perekonomian Eropa di abad
pertengahan memang sedang dilanda keterpurukan. Krisis pangan dan kelaparan
terjadi dimana-mana.
Maka ketika ada seruan perang salib,
orang-orang yang mengalami kelaparan ini sangat berharap agar peperangan dapat
menjadi jalan keluar bagi kesulitan hidup yang mereka rasakan.
Masyarakat Eropa memberlakukan
dikriminasi terhadap rakyat jelata. Di Eropa ketetapan hukum waris, bahwa hanya
anak tertua yang berhak menerima waris. Jika anak tertua meninggal, maka harta
waris harus diserahkan kepada gereja. Hal ini menyebabkan anak miskin
meningkat; kemudian diarahkan untuk turut berperang.
Sementara, meluasnya daerah kekuasaan
Islam berdampak pada beragam pola pemahaman, budaya dan cara beragama. Sehingga
nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil alamin belum dapat meresapi seluruh
daerah kekuasaan Islam. Tidak sedikit perlakuan buruk yang dilakukan oleh kaum
muslim terhadap orang-orang kristen; utamanya mereka yang hendak berziarah ke
Baitul Maqdis. Namun, dengan meluasnya daerah kekuasaan, perekonomian muslim di
timur tengah mengalami kemajuan yang pesat.[4]
c. Faktor
Politik
Perang Salib amat memengaruhi Eropa pada
Abad Pertengahan. Pada masa itu, sebagian besar benua dipersatukan oleh
kekuasaan Kepausan, akan tetapi pada abad ke-14, perkembangan birokrasi yang
terpusat (dasar dari negara-bangsa modern) sedang pesat di Perancis, Inggris,
Burgundi, Portugal, Castilia dan Aragon. Hal ini sebagian didorong oleh
dominasi gereja pada masa awal perang salib.
Meski benua Eropa telah bersinggungan
dengan budaya Islam selama berabad-abad melalui hubungan antara Semenanjung
Iberia dengan Sisilia, banyak ilmu pengetahuan di bidang-bidang sains,
pengobatan dan arsitektur diserap dari dunia Islam ke dunia Barat selama masa
perang salib.
Pengalaman militer perang salib juga
memiliki pengaruh di Eropa, seperti misalnya, kastil-kastil di Eropa mulai
menggunakan bahan dari batu-batuan yang tebal dan besar seperti yang dibuat di
Timur, tidak lagi menggunakan bahan kayu seperti sebelumnya. Sebagai tambahan,
tentara Salib dianggap sebagai pembawa budaya Eropa ke dunia, terutama Asia.
Bersama perdagangan, penemuan-penemuan
dan penciptaan-penciptaan sains baru mencapai timur atau barat. Kemajuan bangsa
Arab termasuk perkembangan aljabar, lensa dan lain lain mencapai barat dan
menambah laju perkembangan di universitas-universitas Eropa yang kemudian
mengarahkan kepada masa Renaissance pada abad-abad berikutnya.[5]
3.
Dampak
Perang Salib
a. Bagi
Bangsa Eropa
Perang Salib menimbulkan beberapa akibat
penting dalam sejarah dunia. Perang Salib membawa Eropa ke dalam kontak
langsung dengan dunia muslim dan terjadinya hubunngan antara timur dan barat.
Kontak ini menimbulkan saling tukar pikiran antara kedua belah pihak.
Pengetahuan orang timur yang progresif dan maju memberi daya dorong besar bagi
pertumbuhaan intelektual Eropa barat. Hal ini melahirkan suatu bagian penting
dalam menumbuhkan reanisance di Eropa. [6]
Meskipun pihak
Kristen eropa mengalami kekalahan dalam perang salib, namun mereka telah
mendapatkan hikmah dan nilai-nilai positif dari semua kejadian ini dengan harga
yang tidak ternilai, bahkan dengan adanya perang inilah cara berfikir dan corak
pandang orang-orang Eropa menjadi maju, karena mereka dapat berkenalan langsung
dengan kebudayaan Islam dan peradaban-peradaban yang sudah maju yang telah
dimiliki oleh umat Islam itu sendiri, sebagai contoh yang diceritakan didalam
buku Ensiklopedi Islam dalam kebudayaan dibidang militer didunia barat belum
begitu mengenal tentang persenjataan dan teknis dalam peperangan, seperti :
1)
Penggunaan bahan peledak dan peluru.
2)
Pertarungan senjata sambil menunggang kuda.
3)
Teknis pengiriman informasi melalui burung merpati dalam hal-hal
kepentingan militer.
4)
Penggunaan alat-alat rebana dalam memberikan support atau dukungan
kepada para pejuang militer di medan perang.
Dibidang
Perindustrian seperti :
1) Mereka mendapatkan pengalaman dalam hal penenunan kain
tenun sekaligus peralatan dari dunia timur.
2) Penemuan berbagai jenis farfum dengan getah arab yang
dapat mengahrumkan ruangan. [7]
Dibidang
pertanian dan perniagaan seperti :
1)
Model irigasi yang praktis.
2)
Jenis tumbuh-tumbuhan yang buahnya bermacam ragam
3)
Penemuan Gula.
4)
Penggunaan mata uang dalam jual beli ang sebelumnya menggunakan sistem
barter.
Dalam ilmu
astronomi yang dikembangkan oleh kaum muslimin sejak abad ke-9 telah memberikan
pengaruh dalam observasi didunia barat, selain itu, mereka juga telah meniru
corak dan model rumah sakit dan tempat-tempat pemandian yang ada di kota-kota
Islam.
Disisi lain dari
pengaruh perang salib terhadap umat Kristen, meskipun mereka tidak berhasil
mendapatkan misi-misi untuk menguasai Baitul Maqdis di Palestina, namun mereka
juga memperoleh kegemilangan dari segi internal mereka, diantaranya dengan
adanya perang salib membuat bangsa Eropa bersatu. [8]
b. Bagi
Islam
Pengaruh Perang Salib terhadap Islam,
adalah lebih memantapkan dan mengokohkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan
umat dalam membela dan mempertahankan eksistensi agama Islam. Pengaruhnya yang
lain adalah memperkenalkan dunia Islam yang mempunyai kebudayaaan tinggi kepada
dunia Barat.
Dari keterangan di atas, dapat
diutarakan bahwa pengaruh langsung atas terjadinya Perang Salib atas dunia
Islam adalah mengingatkan kepada umatnya untuk tetap bersatu padu, menyatukan
langkah dan gerak yang dijiwai oleh ruh Islam, untuk tetap konsisten terhadap
ajaran Islam yang universal. [9]
Perang salib memiliki efek yang buruk
tetapi terlokalisir pada dunia Islam. Dimana persamaan antara “Bangsa Frank”
dengan “Tentara Salib” meninggalkan bekas yang amat dalam. Muslim secara
tradisional mengelu-elukan Saladin, seorang ksatria Kurdi, sebagai pahlawan
Perang Salib. Pada abad ke-21, sebagian dunia Arab, seperti gerakan kemerdekaan
Arab dan gerakan Pan-Islamisme masih terus menyebut keterlibatan dunia Barat di
Timur Tengah sebagai “perang salib”. Perang Salib dianggap oleh dunia Islam
sebagai pembantaian yang kejam dan keji oleh kaum Kristen Eropa. [10]
c. Bagi
Perekonomian Umat Islam
Dalam bidang
seni, gaya-gaya bangunan dan cara berpakaian Timur mempengaruhi seni gaya
bangunan dan berpakaian orang Barat. Demikian pula halnya dalam bidang
agrikultur, banyak pasukan Perang Salib yang terbiasa dengan produk agrikultur
Timur, dan yang terpenting adalah gula; karena gula telah menjadi makanan
termewah di Barat. Hal ini berkaitan dengan pembentukan pasar Eropa baru untuk
produk-produk agrikultur Timur. Orang-orang Barat mulai menyadari kebutuhan
akan barang-barang Timur. Karena kepentingan ini, berkembanglah perdagangan
antara Timur dan Barat.
Bersama-sama
dengan keperluan transportasi para peziarah dan pasukan Perang Salib telah
merangsang kegiatan maritim dan perdagangan internasional. Aplikasi kompas
terjadi pada kegiatan maritim saat itu, yang sekalipun jarum magnetik ditemukan
orang Cina, namun penemuan jarum navigasi mulai dikembangkan oleh Islam.
B.
INVANSI
MONGOL
1. Pengetrian
Invansi Mongol
Invasi adalah
aksi militer dimana angkatan bersenjata suatu negara memasuki daerah yang dikuasai oleh suatu negara lain, dengan
tujuan menguasai daerah tersebut atau mengubah pemerintahan yang berkuasa. Invasi bisa menjadi penyebab perang, bisa digunakan sebagai strategi untuk menyelesaikan perang, atau bisa menjadi inti dari perang itu
sendiri.
Bangsa Mongol berasal
dari daerah pegunungan (Mongolia) yang membentang dari Asia Tengah sampai
Siberia Utara, Tibet Selatan, dan
Mancuria Barat serta Turkistan Timur, bukannya bangsa nomad stepa. Mereka merupakan salah satu anak
rumpun dari bangsa Tartar. Nama Mongol diambil dari nama tempat asal mereka di
Mongolia di mana mula-mula mereka tinggal. Sejarawan Cina beranggapan bahwa
nama Mongol berasal dari bahasa Cina “Mong” (pemberani).[11]
2. Latar Belakang
dan Peristiwa Invansi Mongol
a. Latar
belakang
Serangan-serangan yang dilakukan oleh
Mongol memiliki latar belakang yang menjadi motivasi mereka untuk melakukan penyerang
tersebut. Maidir Harun dan Firdaus memaparkan bahwa ada beberapa hal yang
menjadi motivasi bagi Mongol untuk melakukan serangan, sebagai berikut: [12]
1)
Faktor Politik
Pada tahun 615 H. sekitar 400 orang
pedagang bangsa Tartar dibunuh atas persetujuan wali (gubernur) Utrar. Barang
dagangan mereka dirampas dan dijual kepada saudagar Bukhara dan Samarkand
dengan tuduhan mata-mata Mongol. Tentu saja hal ini menimbulkan kemarahan
Jenghis Khan. Jenghis Khan mengirimkan pasukan kepada Sultan Khawarizmi untuk
meminta agar wali Utrar diserahkan sebagai ganti rugi kepadanya. Utusan ini
juga dibunuh oleh Khawarizmi Syah sehingga Jenghis Khan dengan pasukannya
melakukan penyerangan terhadap wilayah Khawarizmi.[13]
Sedangkan menurut Muhammad Masyhur Amin,
bahwa faktor politik yang menyebabkan bangsa Mongol melakukan penyerangan ke
wilayah Islam adalah pertama, karena Sultan Alauddin Muhammad Khawarizmi Syah
memasukkan daerah suku Qarahatun ke dalam kekuasaannya pada tahun 1210 M.,
sehingga wilayahnya langsung berbatasan dengan wilayah kerajaan Jenghis Khan.
Kedua, pembataian pedagang Mongol disebabkan karena tiga orang Islam saudagar
besar bersama rombongan-nya dibunuh dan dirampas barang dagangannya oleh
orang-orang Mongol di Ibu Kota Qoraqarun. Oleh sebab itu, amir Ghayun Khan
diperintahkan oleh Sultan Alauddin agar membunuh 150 orang pedagang Mongol yang
ada di Utrar.[14]
2)
Faktor Ekonomi
Motif ini diperkuat oleh ucapan Jenghis
Khan sendiri, bahwa penaklukan-penaklukan dilakukannya adalah semata-mata untuk
memperbaiki nasib bangsanya, menambah penduduk yang masih sedikit, membantu
orang-orang miskin dan yang belum berpakaian. Sementara di wilayah Islam
rakyatnya makmur, sudah berperadaban maju, tetapi kekuatan militernya sudah
rapuh.
3)
Tabiat Orang Mongol yang Suka Mengembara
Tabiat mereka yang suka mengembara,
diundang ataupun tidak diundang mereka akan datang juga menjarah dan merampas
harta kekayaan penduduk dimana mereka berdiam. Penyerangan-penyerangan yang
dilakukan oleh Jenghis Khan dengan pasukan perangnya yang terorganisir,
berusaha memperluas wilayah kekuasaan dengan melakukan penaklukan. Para ahli
pertukangan mereka bawa dalam pasukan batalion Zeni (yon-zipur) untuk membuat
jembatan dan menjamin melancarkan transportasi dalam penyerangan. Para tawanan
perang dimanfaatkan secara paksa untuk memanggul perlengkapan perang dan
makanan. Strategi perang Jenghis Khan yang tidak ketinggalan juga adalah
membariskan penduduk sipil yang telah kalah di depan tentara sebagai tameng
untuk menggetarkan musuh. Di samping itu, Jenghis Khan membawa penasehat yang
terdiri dari para rahib dan tukang ramal.[15]
b.
Peristiwa
Invansi Mongol
Invasi Mongol terjadi pada masa
pemerintahan Iltutmish pada tahun 1221 M. Orang-orang Mongol muncul untuk
pertama kalinya ditepi Sungai Indus di bawah pemimpin mereka yang terkenal,
Jengis Khan. Jengis Khan menjadikan orang-orang Mongol sebagai kekuatan politik
dan militer yang terbesar di Asia. Dia menundukkan negeri-negeri Asia Tengah
dan Asia Barat dengan cepat, dan ketika dia menyerang Jalaluddin, Syah
Khawarizm yang terakhir, Syah tersebut melarikan diri ke Punjab dan mencari
perlindungan di daerah jajahan Iltutmish.
Kisah jaruhnya ibukota Abbasiyah pada
tahun 1258, yang didirikan oleh khalifah kedua, Al-Mansur terjadi setelah
diblokade kota “Seribu Satu Malam”, dinding-dinding Baghdad yang kuat diserang
oleh pasukan Holako Khan pada bulan Januari 1258. Orang-orang mongol tidak mau
menerima syarat-syarat yang diajukan oleh pihak Abbasiyah untuk menerima
penyerahan kota. Bahkan, mereka tidak dapat menerima ancaman-ancaman yang
direkayasa dan dipercayai oleh penduduk Baghdad, seperti akan hancur bagi siapa
saja yang memusuhi khalifah Abbasiyah dan bila khalifah dibunuh, kesatuan alam
akan terganggu, matahari akan bersembunyi, hujan akan terhenti turun, dan
tumbuh-tumbuhan tidak akan hidup lagi. Hulako tidak mau menerima ancaman yang
berbau gaib itu karena ia sudah dinasihati oleh para astropolognya.
Akhirnya, pasukan Mongol menyerang kota
pada tanggal 10 Februari 1258. Khalifah beserta 300 pejabat tinggi Negara
menyerah tanpa syarat. Hulako mengenakan gelar II khan dan menguasai wilayah
yang lebih luas lagi sehingga ke Siria Utara, seperti kota Aleppo, Hama, Harim.
Dalam tulidan Philip K. Hitti,
dijelaskan bahwa pada tahun 1253, Hulagu, cucu Jengis Khan, bergerak dari
Mongol memimpin pasukan berkekuatan besar untuk membasmi kelompok pembunuh (hasyasyin)
dan menyerang kekhalifahan Abbasiyah. Inilah gelombang serangan kedua yang
dilakukan bangsa Mongol.
Pada 1256, sejumlah besar benteng
Hasyasyin, termasuk “puri induk” di Alamut, telah direbut tanpa sedikitpun
kesulitan, dan kekuasaan kelompok yang ketakutan hancur-lebur. Bahkan lebih
tragis lagi, bayi-bayi disembelih dengan kejam. Pada Januari1258, anak buah
Hulagu bergerak untuk meruntuhkan tembok ibukota. Selanjutnya, ia ingin merebut
Mesir, tetapi malang, pasukan Mamluk rupanya lebih kuat dan lebih cerdik sehingga
pasukan Mongol dapat dipukul di ‘Ain Jalut, Palestina, pada tahun 1260. Ia pun
mengurungkan niatnya melangkahi Mesir. Atas saran Nasiruddin At-Tusi, seorang
filosof muslim besar, ia membangun observatorium di Maragha pada tahun 1259.
Pada tahun 1260, pasukan Hulagu
mengancam Suriah Utara. Selain merebut Aleppo dan menebaskan pedangnya untuk
membantai sekitar 50.000 penduduknya, dia juga merebut Hamah dan Harim. Setelah
mengutus seorang jenderal untuk mengepung Damaskus, akhirnya ia -karena merasa
terbebani oleh kematian saudaranya, Khan Yang Agung -pulang ke Persia.
Balatentara yang ditinggalkannya, stelah menaklukkan Suriah di hancurkan pada
tahun 1260 di ‘ain Jalut (mata ait Goliath).
Sebagai pendiri Kerajaan Mongol di
Persia-yang terbentang dari Amu Darya sampai perbatasan Suriah, dan dari
pegunungan Kaukasus sampai Samudera Hindia. Hulagu adalah raja pertama yang
memangku gelar II khan. Gelar ini disandang oleh para penerusnya hingga penerus
ke tujuh, Ghazan Mahmud, yang dibawah kekuasaannya, islam dengan kecenderungan
Syiah menjadi agama Negara. Dibawah rezim Ilkhan atau Hulagu, Baghdad
diturunkan posisinya menjadi ibukota provinsi dengan nama Iraq Al-‘Arabi.
Hulagu yang memerintah hingga tahun 1265 digantikan oleh anaknya,
Abaqa.orang-orangMongol II Khaniyah ini bersekutu dengan orang –orang salib,
penguasa Kristen Eropa, Armeria, Cilicia untul melawan Mamluk. [16]
3. Dampak Invansi
Mongol Terhadap Peradaban Islam
·
Dampak negativ
Kehancuran
tampak jelas dimana-mana dari serangan mongol sejak dari wilayah timur hingga
kebarat. Kehancuran kota-kota dengan bangunan yang indah-indah dan
perpustakaan-perpustakaan yang mengoleksi banyak buku memperburuk situasi ummat
islam. Pembunuhan terhadap umat islam terjadi, bukan hanya pada masa hulako
saja yang membunuh khalifah Abbasiyah dan keluarganya, tetapi pembunuhan
dilakukan juga terhadap umat islam yang tidak berdosa. Seperti yang dilakukan
oleh argun Khan ke 4 pada masa dinasti Il khaniyah terhadap Takudar sebagai
Khan ketiga yang dihukum bunuh karena masuk islam, Argun Syamsuddin, seorang
administrator dari keluarga juwaini yang tersohor di hokum mati tahun 1284,
Syamsuddin penggantinya juga dibunuh tahun 1289, dan Sa'id ad-Daulah yang orang
Yahudi itu dihukum mati pula pada tahun 1289. [17]
·
Dampak positif
Disebabkan karena mereka berasimilasi
dan bergaul dengan masyarakat Muslim dalam jangka panjang, seperti yang
dilakukan gazhar khan (1295-1304) yang menjadikan Islam sebagai agama resmi
kerajaan, walaupun ia pada mulanya beagama Buddha. Rupanya ia telah mempelajari
ajaran agama-agama sebelum menetapkan keislamannya, dan yang lebih mendorongnya
masuk islam adalah karena pengaruh seorang menterinya, Rasyiddin yang
terpelajar dan ahli sejarah yang terkemuka yang selalu berdialog dengannya, dan
Nawruz, seorang Gubernurnya untuk berapa provinsi syiria. Ia menyuruh kaum
Kristen dan yahudi untuk membayar jizrah, dan memerintahkan mencetak uang yang
bercirikan islam, melarang riba', dan menyuruuh para pemimpinnya menggunakan
sorban. Ia gemar pada seni dan ilmu pengetahuan, menguasai beberapa bahasa
seperti Mongol, Arab , Persia , Cina , Tibet dan Latin. Ia mati muda ketika
berumur 32 tahun, karena tekanan batin yang berat sehingga ia sakit yang
menyebabkan kematiannya itu ketika pasukannya kalah di syiria dan munculnya
sebuah komplotan yang berusaha untuk menggusurnya dari kekuasaannya.[18]
4. Dampak Invansi
Mongol Terhadap Perekonomian Islam
Pengaruh utama
bangsa mogol di Iran adalah sifatnya yang mendatangan malapetaka dan
menimbulkan suatu bencana. Penduduk dari bebrapa kota dan kampung dimusnahkan
secara sistematik.seluruh daerah menjadi tidak berpenduduik akibat dari
diusuirnya para petani dari daerah tersebut dengan dibantu oleh gelombang
pasukan nomad yang berasal dari Turki mereka mengusir para petani dari derah mereka
sendiri. Rezim Mongol di Iran merupakan sebuah negara taklukan ia dibentuk dari
pasukan tunggal yang besar yang terdiri dari aristokrasi militer kesukuan yang
bersekutu dengan dinsti yang sedang berkuasa kelompok aristokrasi memandang
bahwa mereka sebagai manusia istimewa dan berhak mendominasi dan memungut pajak
pada rakyatnya .
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1. Perang
salib adalah gerakan yamg dilakukan oleh kaum Kristen Eropa untuk memerangi
kaum muslim.
2. Latar
belakang perang salib : pertentangan antara islam dan Kristen, bangsa Eropa
yang di landa krisis ekonomi, dan seruan pemimpin Kristen untuk menyebarkan
wilayah.
3. Dampak perang salib bagi bangsa Eropa adalah :
banyak menambah ilmu bangsa Eropa, memperkuat sistem pertahananya dan
lain-lain.
4. Dampak
perang salib bagi peradaban islam adalah : lebih memantapkan dan mengokohkan
nilai-nilai persatuan dan kesatuan umat dalam membela dan mempertahankan
eksistensi agama Islam.
5. Dampak
perang salib terhadap perekonomian umat islam adalah : menambah komoditi barang
perdagangan, menambah jalur perdagangan dan lain-lain.
6. Invansi
mongol adalah aksi militer dimana angkatan bersenjata suku mongol memasuki daerah yang dikuasai oleh Negara islam.
7. Latar
belakang invansi mongol adalah : tuduhan tehadap bangsa mongol, keniginan untuk
mensejahterakan rakyat, dan kebiasaan bangsa mongol yang suka mengembara.
8. Dampak
invansi mongol terhadap islam : dampak negativ ;kehancuran kota-kota besar
islam, dampak positif; dijadikannya islam sebagai agama resmi kerajaan.
9. Dampak
invansi mongol terhadap perekonomian islam adalah : pemungutan pajak kepada
rakyat irak.
B.
SARAN
Pemakalah
sadar akan ketidak sempurnaan makalah ini, untuk itu pemakalah mengharapkan
kritik dan saran dari pembaca agar menjadi makalaah yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ash-Shalabi,Ali Muhammad,2013; Shalahuddin Al-Ayyubi: Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis. Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar.
Darmawan,Hikmat,2003; Perang suci: Dari Perang
Salib Hingga Perang Teluk.Jakarta : Serambi Ilmu Semesta.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam,2001; Ensiklopedi
Islam. Jakarta : PT. Ichtiar Baru.
Harun,Maidir & Firdaus,2002; Sejarah
Peradaban Islam. Padang : IAIN-IB Press.
K. Ali,2003; sejarah Islam Modrn (tarikh Modrn). Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Kuntowijoyo,2003; Metodologi Sejarah .Yogyakarta
: PT. Tiara Wacana.
Munawwir,Ahmad Warson,1997; Kamus Arab Indonesia .Cet. XIV,
Yogyakarta: Pustaka Progressif.
Sanusi,Ahmad,2001; Relasi Damai Islam Kristen.
Pustaka Alvabet.
Supriyadi,Dedi,2008; Sejarah Peradaban Islam.
Bandung: CV. Pustaka Setia.
Yatim,Badri,2000; Sejarah Peradaban Islam.
Cet. X; Jakarta: Raja Grafindo Persada
[1] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Arab Indonesia (Cet.
XIV; Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997).
h. 787
[3] Ali
Muhammad Ash-Shalabi, Shalahuddin
Al-Ayyubi: Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis. (Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar, 2013).h. 34-36
[4] Hikmat Darmawan, Perang suci: Dari Perang
Salib Hingga Perang Teluk,( Jakarta : Serambi Ilmu Semesta, 2003).h. 428
[9] http://youchenkymayeli.blogspot.com/2013/12/perang-salib-berlangsung-selama-2-abad.html (di akses kamis, 12 maret 2015)
[12] Maidir Harun dan Firdaus, Sejarah Peradaban
Islam,( Padang : IAIN-IB Press, 2002).h. 107-108
[13] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi
Islam .h. 242
[14] Muhammad Masyhur Amin, Sejarah Peradaban
Islam, (Bandung : Indonesia Spirit Foundation, 2004).h. 171
[15] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi
Islam .h. 242-243
[16] http://islambloger.com/2014/11/PERISTIWA-INVASI-MONGOL-PADA-MASA-ABBASIYAHA.htm (di akses kamis, 12 maret 2015)