Jumat, 19 Juni 2015

SEJARAH PERADABAN EKONOMI ISLAM



BAB II
PEMBEHASAN
A.    PERANG SALIB
1.      Pengertian Perang Salib
Perang Salib berasal dari Bahasa Arab, yaitu حـر كـة    yang berarti suatu gerakan  atau   barisan, dan  صـلـيـبـيـة  yang berarti kayu palang, tanda silang (dua batang kayu yang bersilang.[1]
Perang Salib adalah gerakan umat Kristen di Eropa yang memerangi umat Muslim di Palestina secara berulang-ulang mulai abad ke-11 sampai abad ke-13. Perang Salib (1096-1291) terjadi sebagai reaksi dunia Kristen di Eropa terhadap dunia Islam di Asia, yang sejak 632 M., dianggap sebagai pihak “penyerang”, bukan saja di Siria dan Asia kecil, tetapi juga di Spanyol dan Sisilia.
Perang salib terjadi selama kurang lebih dua abad. Peristiwa ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap orang Islam, yang kemudian meletusnya Perang Salib ini. Kebencian ini bertambah setelah dinasti Seljuk dapat merebut Baitul Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan Dinasti Fathimiyyah yang berkedudukan di Mesir. Hingga akhirnya kebijakan yang dikeluarkan oleh Dinasti Seljuk bagi umat Kristiani yang hendak berziarah kesana dirasakan sangat memberatkan dan menyulitkan. [2]

2.      Latar Belakang Perang Salib

a.   Faktor Agama
Ini merupakan faktor utama penyulut berkobarnya perang salib. Salah satu bukti konkritnya, para tentara salib ketika itu meletakkan symbol salib pada senjata-senjata mereka dan berbagai barang yang mereka bawa di medan perang.
Dedengkot awal yang menjadi penyeru utama yang memiliki ide perang salib ialah Paus Urbanus II. Dia dianggap orang pertama yang bertanggung jawab menyebarluaskan ide tersebut, serta mendorong agar dikirim ekspedisi militer pertama ke Syam.
Dia telah mengondisikan keadaan sedemikian rupa, sehingga kemudia segera diadakan pertemuan di kota Clermont, Perancis. Setelah itu dilanjutkan dengan konferensi tingkat tinggi selama 10 hari yang dihadiri tidak kurang dari 300 pemuka gereja. Pertemuan ini juga dihadiri para pemimpin politik Negara-negara Eropa.
Pada kesempatan itulah, sang Paus mulai menggelorakan semangat untuk mulai merencanakan serangan terhadap kaum muslimin. Selain itu, dia juga memprovokasi para delegasi dengan adanya penganiayaan yang dilakukan umat Islam terhadap non-Islam di Negara-negara Timur.
Paus Urbanus juga menjanjikan adanya pengampunan dosa atas kesalahan-kesalahan masa lalu kepada masyarakat yang ikut berperang dan menyebarkan berita akan turunnya pertolongan atau mukjizat dari Tuhan dalam peperangan.[3]

b.   Faktor Ekonomi
Kondisi perekonomian Eropa di abad pertengahan memang sedang dilanda keterpurukan. Krisis pangan dan kelaparan terjadi dimana-mana.
Maka ketika ada seruan perang salib, orang-orang yang mengalami kelaparan ini sangat berharap agar peperangan dapat menjadi jalan keluar bagi kesulitan hidup yang mereka rasakan.
Masyarakat Eropa memberlakukan dikriminasi terhadap rakyat jelata. Di Eropa ketetapan hukum waris, bahwa hanya anak tertua yang berhak menerima waris. Jika anak tertua meninggal, maka harta waris harus diserahkan kepada gereja. Hal ini menyebabkan anak miskin meningkat; kemudian diarahkan untuk turut berperang.
Sementara, meluasnya daerah kekuasaan Islam berdampak pada beragam pola pemahaman, budaya dan cara beragama. Sehingga nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil alamin belum dapat meresapi seluruh daerah kekuasaan Islam. Tidak sedikit perlakuan buruk yang dilakukan oleh kaum muslim terhadap orang-orang kristen; utamanya mereka yang hendak berziarah ke Baitul Maqdis. Namun, dengan meluasnya daerah kekuasaan, perekonomian muslim di timur tengah mengalami kemajuan yang pesat.[4]
c.    Faktor Politik
Perang Salib amat memengaruhi Eropa pada Abad Pertengahan. Pada masa itu, sebagian besar benua dipersatukan oleh kekuasaan Kepausan, akan tetapi pada abad ke-14, perkembangan birokrasi yang terpusat (dasar dari negara-bangsa modern) sedang pesat di Perancis, Inggris, Burgundi, Portugal, Castilia dan Aragon. Hal ini sebagian didorong oleh dominasi gereja pada masa awal perang salib.
Meski benua Eropa telah bersinggungan dengan budaya Islam selama berabad-abad melalui hubungan antara Semenanjung Iberia dengan Sisilia, banyak ilmu pengetahuan di bidang-bidang sains, pengobatan dan arsitektur diserap dari dunia Islam ke dunia Barat selama masa perang salib.
Pengalaman militer perang salib juga memiliki pengaruh di Eropa, seperti misalnya, kastil-kastil di Eropa mulai menggunakan bahan dari batu-batuan yang tebal dan besar seperti yang dibuat di Timur, tidak lagi menggunakan bahan kayu seperti sebelumnya. Sebagai tambahan, tentara Salib dianggap sebagai pembawa budaya Eropa ke dunia, terutama Asia.
Bersama perdagangan, penemuan-penemuan dan penciptaan-penciptaan sains baru mencapai timur atau barat. Kemajuan bangsa Arab termasuk perkembangan aljabar, lensa dan lain lain mencapai barat dan menambah laju perkembangan di universitas-universitas Eropa yang kemudian mengarahkan kepada masa Renaissance pada abad-abad berikutnya.[5]

3.      Dampak Perang Salib
a.   Bagi Bangsa Eropa
Perang Salib menimbulkan beberapa akibat penting dalam sejarah dunia. Perang Salib membawa Eropa ke dalam kontak langsung dengan dunia muslim dan terjadinya hubunngan antara timur dan barat. Kontak ini menimbulkan saling tukar pikiran antara kedua belah pihak. Pengetahuan orang timur yang progresif dan maju memberi daya dorong besar bagi pertumbuhaan intelektual Eropa barat. Hal ini melahirkan suatu bagian penting dalam menumbuhkan reanisance di Eropa. [6]
Meskipun pihak Kristen eropa mengalami kekalahan dalam perang salib, namun mereka telah mendapatkan hikmah dan nilai-nilai positif dari semua kejadian ini dengan harga yang tidak ternilai, bahkan dengan adanya perang inilah cara berfikir dan corak pandang orang-orang Eropa menjadi maju, karena mereka dapat berkenalan langsung dengan kebudayaan Islam dan peradaban-peradaban yang sudah maju yang telah dimiliki oleh umat Islam itu sendiri, sebagai contoh yang diceritakan didalam buku Ensiklopedi Islam dalam kebudayaan dibidang militer didunia barat belum begitu mengenal tentang persenjataan dan teknis dalam peperangan, seperti :
1)         Penggunaan bahan peledak dan peluru.
2)         Pertarungan senjata sambil menunggang kuda.
3)         Teknis pengiriman informasi melalui burung merpati dalam hal-hal kepentingan militer.
4)         Penggunaan alat-alat rebana dalam memberikan support atau dukungan kepada para pejuang militer di medan perang.
Dibidang Perindustrian seperti :
1)      Mereka mendapatkan pengalaman dalam hal penenunan kain tenun sekaligus peralatan dari dunia timur.
2)      Penemuan berbagai jenis farfum dengan getah arab yang dapat mengahrumkan ruangan. [7]
Dibidang pertanian dan perniagaan seperti :
1)         Model irigasi yang praktis.
2)         Jenis tumbuh-tumbuhan yang buahnya bermacam ragam
3)         Penemuan Gula.
4)         Penggunaan mata uang dalam jual beli ang sebelumnya menggunakan sistem barter.
Dalam ilmu astronomi yang dikembangkan oleh kaum muslimin sejak abad ke-9 telah memberikan pengaruh dalam observasi didunia barat, selain itu, mereka juga telah meniru corak dan model rumah sakit dan tempat-tempat pemandian yang ada di kota-kota Islam.
Disisi lain dari pengaruh perang salib terhadap umat Kristen, meskipun mereka tidak berhasil mendapatkan misi-misi untuk menguasai Baitul Maqdis di Palestina, namun mereka juga memperoleh kegemilangan dari segi internal mereka, diantaranya dengan adanya perang salib membuat bangsa Eropa bersatu. [8]

b.      Bagi Islam
Pengaruh Perang Salib terhadap Islam, adalah lebih memantapkan dan mengokohkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan umat dalam membela dan mempertahankan eksistensi agama Islam. Pengaruhnya yang lain adalah memperkenalkan dunia Islam yang mempunyai kebudayaaan tinggi kepada dunia Barat.
Dari keterangan di atas, dapat diutarakan bahwa pengaruh langsung atas terjadinya Perang Salib atas dunia Islam adalah mengingatkan kepada umatnya untuk tetap bersatu padu, menyatukan langkah dan gerak yang dijiwai oleh ruh Islam, untuk tetap konsisten terhadap ajaran Islam yang universal. [9]
Perang salib memiliki efek yang buruk tetapi terlokalisir pada dunia Islam. Dimana persamaan antara “Bangsa Frank” dengan “Tentara Salib” meninggalkan bekas yang amat dalam. Muslim secara tradisional mengelu-elukan Saladin, seorang ksatria Kurdi, sebagai pahlawan Perang Salib. Pada abad ke-21, sebagian dunia Arab, seperti gerakan kemerdekaan Arab dan gerakan Pan-Islamisme masih terus menyebut keterlibatan dunia Barat di Timur Tengah sebagai “perang salib”. Perang Salib dianggap oleh dunia Islam sebagai pembantaian yang kejam dan keji oleh kaum Kristen Eropa. [10]
c.       Bagi Perekonomian Umat Islam

Dalam bidang seni, gaya-gaya bangunan dan cara berpakaian Timur mempengaruhi seni gaya bangunan dan berpakaian orang Barat. Demikian pula halnya dalam bidang agrikultur, banyak pasukan Perang Salib yang terbiasa dengan produk agrikultur Timur, dan yang terpenting adalah gula; karena gula telah menjadi makanan termewah di Barat. Hal ini berkaitan dengan pembentukan pasar Eropa baru untuk produk-produk agrikultur Timur. Orang-orang Barat mulai menyadari kebutuhan akan barang-barang Timur. Karena kepentingan ini, berkembanglah perdagangan antara Timur dan Barat.
Bersama-sama dengan keperluan transportasi para peziarah dan pasukan Perang Salib telah merangsang kegiatan maritim dan perdagangan internasional. Aplikasi kompas terjadi pada kegiatan maritim saat itu, yang sekalipun jarum magnetik ditemukan orang Cina, namun penemuan jarum navigasi mulai dikembangkan oleh Islam.
B.        INVANSI MONGOL

1.      Pengetrian Invansi Mongol
Invasi adalah aksi militer dimana angkatan bersenjata suatu negara memasuki daerah yang dikuasai oleh suatu negara lain, dengan tujuan menguasai daerah tersebut atau mengubah pemerintahan yang berkuasa. Invasi bisa menjadi penyebab perang, bisa digunakan sebagai strategi untuk menyelesaikan perang, atau bisa menjadi inti dari perang itu sendiri.
Bangsa Mongol berasal dari daerah pegunungan (Mongolia) yang membentang dari Asia Tengah sampai Siberia Utara, Tibet Selatan,  dan Mancuria Barat serta Turkistan Timur, bukannya bangsa  nomad stepa. Mereka merupakan salah satu anak rumpun dari bangsa Tartar. Nama Mongol diambil dari nama tempat asal mereka di Mongolia di mana mula-mula mereka tinggal. Sejarawan Cina beranggapan bahwa nama Mongol berasal dari bahasa Cina “Mong” (pemberani).[11]
2.      Latar Belakang dan Peristiwa Invansi Mongol
a.      Latar belakang
Serangan-serangan yang dilakukan oleh Mongol memiliki latar belakang yang menjadi motivasi mereka untuk melakukan penyerang tersebut. Maidir Harun dan Firdaus memaparkan bahwa ada beberapa hal yang menjadi motivasi bagi Mongol untuk melakukan serangan, sebagai berikut: [12]
1)         Faktor Politik
Pada tahun 615 H. sekitar 400 orang pedagang bangsa Tartar dibunuh atas persetujuan wali (gubernur) Utrar. Barang dagangan mereka dirampas dan dijual kepada saudagar Bukhara dan Samarkand dengan tuduhan mata-mata Mongol. Tentu saja hal ini menimbulkan kemarahan Jenghis Khan. Jenghis Khan mengirimkan pasukan kepada Sultan Khawarizmi untuk meminta agar wali Utrar diserahkan sebagai ganti rugi kepadanya. Utusan ini juga dibunuh oleh Khawarizmi Syah sehingga Jenghis Khan dengan pasukannya melakukan penyerangan terhadap wilayah Khawarizmi.[13]
Sedangkan menurut Muhammad Masyhur Amin, bahwa faktor politik yang menyebabkan bangsa Mongol melakukan penyerangan ke wilayah Islam adalah pertama, karena Sultan Alauddin Muhammad Khawarizmi Syah memasukkan daerah suku Qarahatun ke dalam kekuasaannya pada tahun 1210 M., sehingga wilayahnya langsung berbatasan dengan wilayah kerajaan Jenghis Khan. Kedua, pembataian pedagang Mongol disebabkan karena tiga orang Islam saudagar besar bersama rombongan-nya dibunuh dan dirampas barang dagangannya oleh orang-orang Mongol di Ibu Kota Qoraqarun. Oleh sebab itu, amir Ghayun Khan diperintahkan oleh Sultan Alauddin agar membunuh 150 orang pedagang Mongol yang ada di Utrar.[14]
2)         Faktor Ekonomi
Motif ini diperkuat oleh ucapan Jenghis Khan sendiri, bahwa penaklukan-penaklukan dilakukannya adalah semata-mata untuk memperbaiki nasib bangsanya, menambah penduduk yang masih sedikit, membantu orang-orang miskin dan yang belum berpakaian. Sementara di wilayah Islam rakyatnya makmur, sudah berperadaban maju, tetapi kekuatan militernya sudah rapuh.
3)         Tabiat Orang Mongol yang Suka Mengembara
Tabiat mereka yang suka mengembara, diundang ataupun tidak diundang mereka akan datang juga menjarah dan merampas harta kekayaan penduduk dimana mereka berdiam. Penyerangan-penyerangan yang dilakukan oleh Jenghis Khan dengan pasukan perangnya yang terorganisir, berusaha memperluas wilayah kekuasaan dengan melakukan penaklukan. Para ahli pertukangan mereka bawa dalam pasukan batalion Zeni (yon-zipur) untuk membuat jembatan dan menjamin melancarkan transportasi dalam penyerangan. Para tawanan perang dimanfaatkan secara paksa untuk memanggul perlengkapan perang dan makanan. Strategi perang Jenghis Khan yang tidak ketinggalan juga adalah membariskan penduduk sipil yang telah kalah di depan tentara sebagai tameng untuk menggetarkan musuh. Di samping itu, Jenghis Khan membawa penasehat yang terdiri dari para rahib dan tukang ramal.[15]
b.         Peristiwa Invansi Mongol
Invasi Mongol terjadi pada masa pemerintahan Iltutmish pada tahun 1221 M. Orang-orang Mongol muncul untuk pertama kalinya ditepi Sungai Indus di bawah pemimpin mereka yang terkenal, Jengis Khan. Jengis Khan menjadikan orang-orang Mongol sebagai kekuatan politik dan militer yang terbesar di Asia. Dia menundukkan negeri-negeri Asia Tengah dan Asia Barat dengan cepat, dan ketika dia menyerang Jalaluddin, Syah Khawarizm yang terakhir, Syah tersebut melarikan diri ke Punjab dan mencari perlindungan di daerah jajahan Iltutmish.
Kisah jaruhnya ibukota Abbasiyah pada tahun 1258, yang didirikan oleh khalifah kedua, Al-Mansur terjadi setelah diblokade kota “Seribu Satu Malam”, dinding-dinding Baghdad yang kuat diserang oleh pasukan Holako Khan pada bulan Januari 1258. Orang-orang mongol tidak mau menerima syarat-syarat yang diajukan oleh pihak Abbasiyah untuk menerima penyerahan kota. Bahkan, mereka tidak dapat menerima ancaman-ancaman yang direkayasa dan dipercayai oleh penduduk Baghdad, seperti akan hancur bagi siapa saja yang memusuhi khalifah Abbasiyah dan bila khalifah dibunuh, kesatuan alam akan terganggu, matahari akan bersembunyi, hujan akan terhenti turun, dan tumbuh-tumbuhan tidak akan hidup lagi. Hulako tidak mau menerima ancaman yang berbau gaib itu karena ia sudah dinasihati oleh para astropolognya.
Akhirnya, pasukan Mongol menyerang kota pada tanggal 10 Februari 1258. Khalifah beserta 300 pejabat tinggi Negara menyerah tanpa syarat. Hulako mengenakan gelar II khan dan menguasai wilayah yang lebih luas lagi sehingga ke Siria Utara, seperti kota Aleppo, Hama, Harim.
Dalam tulidan Philip K. Hitti, dijelaskan bahwa pada tahun 1253, Hulagu, cucu Jengis Khan, bergerak dari Mongol memimpin pasukan berkekuatan besar untuk membasmi kelompok pembunuh (hasyasyin) dan menyerang kekhalifahan Abbasiyah. Inilah gelombang serangan kedua yang dilakukan bangsa Mongol.
Pada 1256, sejumlah besar benteng Hasyasyin, termasuk “puri induk” di Alamut, telah direbut tanpa sedikitpun kesulitan, dan kekuasaan kelompok yang ketakutan hancur-lebur. Bahkan lebih tragis lagi, bayi-bayi disembelih dengan kejam. Pada Januari1258, anak buah Hulagu bergerak untuk meruntuhkan tembok ibukota. Selanjutnya, ia ingin merebut Mesir, tetapi malang, pasukan Mamluk rupanya lebih kuat dan lebih cerdik sehingga pasukan Mongol dapat dipukul di ‘Ain Jalut, Palestina, pada tahun 1260. Ia pun mengurungkan niatnya melangkahi Mesir. Atas saran Nasiruddin At-Tusi, seorang filosof muslim besar, ia membangun observatorium di Maragha pada tahun 1259.
Pada tahun 1260, pasukan Hulagu mengancam Suriah Utara. Selain merebut Aleppo dan menebaskan pedangnya untuk membantai sekitar 50.000 penduduknya, dia juga merebut Hamah dan Harim. Setelah mengutus seorang jenderal untuk mengepung Damaskus, akhirnya ia -karena merasa terbebani oleh kematian saudaranya, Khan Yang Agung -pulang ke Persia. Balatentara yang ditinggalkannya, stelah menaklukkan Suriah di hancurkan pada tahun 1260 di ‘ain Jalut (mata ait Goliath).
Sebagai pendiri Kerajaan Mongol di Persia-yang terbentang dari Amu Darya sampai perbatasan Suriah, dan dari pegunungan Kaukasus sampai Samudera Hindia. Hulagu adalah raja pertama yang memangku gelar II khan. Gelar ini disandang oleh para penerusnya hingga penerus ke tujuh, Ghazan Mahmud, yang dibawah kekuasaannya, islam dengan kecenderungan Syiah menjadi agama Negara. Dibawah rezim Ilkhan atau Hulagu, Baghdad diturunkan posisinya menjadi ibukota provinsi dengan nama Iraq Al-‘Arabi. Hulagu yang memerintah hingga tahun 1265 digantikan oleh anaknya, Abaqa.orang-orangMongol II Khaniyah ini bersekutu dengan orang –orang salib, penguasa Kristen Eropa, Armeria, Cilicia untul melawan Mamluk. [16]

3.      Dampak Invansi Mongol Terhadap Peradaban  Islam
·            Dampak negativ
Kehancuran tampak jelas dimana-mana dari serangan mongol sejak dari wilayah timur hingga kebarat. Kehancuran kota-kota dengan bangunan yang indah-indah dan perpustakaan-perpustakaan yang mengoleksi banyak buku memperburuk situasi ummat islam. Pembunuhan terhadap umat islam terjadi, bukan hanya pada masa hulako saja yang membunuh khalifah Abbasiyah dan keluarganya, tetapi pembunuhan dilakukan juga terhadap umat islam yang tidak berdosa. Seperti yang dilakukan oleh argun Khan ke 4 pada masa dinasti Il khaniyah terhadap Takudar sebagai Khan ketiga yang dihukum bunuh karena masuk islam, Argun Syamsuddin, seorang administrator dari keluarga juwaini yang tersohor di hokum mati tahun 1284, Syamsuddin penggantinya juga dibunuh tahun 1289, dan Sa'id ad-Daulah yang orang Yahudi itu dihukum mati pula pada tahun 1289. [17]

·            Dampak positif
Disebabkan karena mereka berasimilasi dan bergaul dengan masyarakat Muslim dalam jangka panjang, seperti yang dilakukan gazhar khan (1295-1304) yang menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan, walaupun ia pada mulanya beagama Buddha. Rupanya ia telah mempelajari ajaran agama-agama sebelum menetapkan keislamannya, dan yang lebih mendorongnya masuk islam adalah karena pengaruh seorang menterinya, Rasyiddin yang terpelajar dan ahli sejarah yang terkemuka yang selalu berdialog dengannya, dan Nawruz, seorang Gubernurnya untuk berapa provinsi syiria. Ia menyuruh kaum Kristen dan yahudi untuk membayar jizrah, dan memerintahkan mencetak uang yang bercirikan islam, melarang riba', dan menyuruuh para pemimpinnya menggunakan sorban. Ia gemar pada seni dan ilmu pengetahuan, menguasai beberapa bahasa seperti Mongol, Arab , Persia , Cina , Tibet dan Latin. Ia mati muda ketika berumur 32 tahun, karena tekanan batin yang berat sehingga ia sakit yang menyebabkan kematiannya itu ketika pasukannya kalah di syiria dan munculnya sebuah komplotan yang berusaha untuk menggusurnya dari kekuasaannya.[18]
4.      Dampak Invansi Mongol Terhadap Perekonomian Islam
Pengaruh utama bangsa mogol di Iran adalah sifatnya yang mendatangan malapetaka dan menimbulkan suatu bencana. Penduduk dari bebrapa kota dan kampung dimusnahkan secara sistematik.seluruh daerah menjadi tidak berpenduduik akibat dari diusuirnya para petani dari daerah tersebut dengan dibantu oleh gelombang pasukan nomad yang berasal dari Turki mereka mengusir para petani dari derah mereka sendiri. Rezim Mongol di Iran merupakan sebuah negara taklukan ia dibentuk dari pasukan tunggal yang besar yang terdiri dari aristokrasi militer kesukuan yang bersekutu dengan dinsti yang sedang berkuasa kelompok aristokrasi memandang bahwa mereka sebagai manusia istimewa dan berhak mendominasi dan memungut pajak pada rakyatnya .
                                                                                                                 












BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN

1.      Perang salib adalah gerakan yamg dilakukan oleh kaum Kristen Eropa untuk memerangi kaum muslim.
2.      Latar belakang perang salib : pertentangan antara islam dan Kristen, bangsa Eropa yang di landa krisis ekonomi, dan seruan pemimpin Kristen untuk menyebarkan wilayah.
3.      Dampak  perang salib bagi bangsa Eropa adalah : banyak menambah ilmu bangsa Eropa, memperkuat sistem pertahananya dan lain-lain.
4.      Dampak perang salib bagi peradaban islam adalah : lebih memantapkan dan mengokohkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan umat dalam membela dan mempertahankan eksistensi agama Islam.
5.      Dampak perang salib terhadap perekonomian umat islam adalah : menambah komoditi barang perdagangan, menambah jalur perdagangan dan lain-lain.
6.      Invansi mongol adalah aksi militer dimana angkatan bersenjata suku mongol memasuki daerah yang dikuasai oleh Negara islam.
7.      Latar belakang invansi mongol adalah : tuduhan tehadap bangsa mongol, keniginan untuk mensejahterakan rakyat, dan kebiasaan bangsa mongol yang suka mengembara.
8.      Dampak invansi mongol terhadap islam : dampak negativ ;kehancuran kota-kota besar islam, dampak positif; dijadikannya islam sebagai agama resmi kerajaan.
9.      Dampak invansi mongol terhadap perekonomian islam adalah : pemungutan pajak kepada rakyat irak.


B.     SARAN
Pemakalah sadar akan ketidak sempurnaan makalah ini, untuk itu pemakalah mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar menjadi makalaah yang lebih baik.





                                                  

DAFTAR PUSTAKA

Ash-Shalabi,Ali Muhammad,2013; Shalahuddin Al-Ayyubi: Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Darmawan,Hikmat,2003; Perang suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk.Jakarta :  Serambi Ilmu Semesta.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam,2001; Ensiklopedi Islam. Jakarta : PT. Ichtiar Baru.
Harun,Maidir & Firdaus,2002; Sejarah Peradaban Islam. Padang : IAIN-IB Press.
K. Ali,2003; sejarah Islam Modrn (tarikh Modrn). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Kuntowijoyo,2003; Metodologi Sejarah .Yogyakarta : PT. Tiara Wacana.
Munawwir,Ahmad Warson,1997; Kamus Arab Indonesia .Cet. XIV, Yogyakarta: Pustaka Progressif.
Sanusi,Ahmad,2001; Relasi Damai Islam Kristen. Pustaka Alvabet.
Supriyadi,Dedi,2008; Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Yatim,Badri,2000; Sejarah Peradaban Islam. Cet. X; Jakarta: Raja Grafindo Persada


[1]  Ahmad Warson Munawwir, Kamus Arab Indonesia (Cet. XIV; Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997). h. 787
[2]  Badri Yatim, Sejarah Peradapan Islam (Jakarta: PT Raja Grafinda Persada, 2008). h. 77
[3]  Ali Muhammad Ash-Shalabi, Shalahuddin Al-Ayyubi: Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis. (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013).h. 34-36
[4]  Hikmat Darmawan, Perang suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk,( Jakarta :  Serambi Ilmu Semesta, 2003).h. 428
[5]  Ahmad Sanusi, Relasi Damai Islam Kristen. (Pustaka Alvabet , 2001).h.  92
[6]  Dedi Supriyadi,  Sejarah Peradaban Islam. (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008).h. 175
[7]  Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta : PT. Ichtiar Baru, 2001). h.243
[8]  K. Ali, sejarah Islam Modrn (tarikh Modrn), (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003). h. 114
[10]  Kuntowijoyo , Metodologi Sejarah,  (Yogyakarta : PT. Tiara Wacana,2003).h. 57
[11]  M. Abdul Karim, Islam di Asia Tengah ( Yogyakarta: Bagaskara, 2006).h.28.
[12]  Maidir Harun dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam,( Padang : IAIN-IB Press, 2002).h. 107-108
[13]  Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam .h. 242

[14]  Muhammad Masyhur Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung : Indonesia Spirit Foundation, 2004).h. 171
[15]  Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam .h. 242-243
[17]  Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Cet. X; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), h. 7
[18]  Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam h. 8-9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar