BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
BIOGRAFI SUSI PUDJIASTUTI. [1]
Susi
Pudjiastuti (lahir di Pangandaran, 15 Januari 1965; umur 49 tahun) adalah seorang Menteri Kelautan dan Perikanan dari Kabinet Kerja
2014-2019
yang juga pengusaha pemilik dan
Presdir PT ASI Pudjiastuti Marine Product, eksportir hasil-hasil perikanan dan
PT ASI Pudjiastuti Aviation atau penerbangan Susi Air dari Jawa Barat. Hingga awal
tahun 2012, Susi Air
mengoperasikan 50 pesawat dengan berbagai tipe seperti 32 Cessna Grand Caravan,
9 Pilatus PC-6 Porter dan 3 Piaggio P180 Avanti. Susi Air mempekerjakan 180
pilot, dengan 175 di antaranya merupakan pilot asing. Tahun 2012 Susi Air
menerima pendapatan Rp300 miliar dan melayani 200 penerbangan perintis.
Ayah
dan ibunya Susi Pudjiastuti yaitu Haji Ahmad Karlan dan Hajjah Suwuh Lasminah
berasal dari Jawa Tengah yang sudah lima
generasi lahir dan hidup di Pangandaran. Keluarganya adalah saudagar sapi dan
kerbau, yang membawa ratusan ternak dari Jawa Tengah untuk diperdagangkan di
Jawa Barat. Kakek buyutnya Haji Ireng dikenal sebagai tuan tanah. Susi hanya
memiliki ijazah SMP. Setamat SMP ia sempat melanjutkan pendidikan ke SMA. Di SMA Negeri 1
Yogyakarta,
dia berhenti sekolah saat kelas dua.
Setelah
tidak lagi bersekolah, dengan modal Rp750 ribu hasil menjual perhiasan, pada 1983 Susi mengawali profesi sebagai pengepul
ikan di Pangandaran. Bisnisnya terus berkembang, dan pada 1996 Susi mendirikan pabrik pengolahan ikan
PT ASI Pudjiastuti Marine Product dengan produk unggulan berupa lobster dengan
merek “Susi Brand”. Ketika bisnis pengolahan ikannya meluas dengan pasar hingga
ke Asia dan Amerika, Susi memerlukan sarana transportasi udara yang dapat
dengan cepat mengangkut lobster, ikan, dan hasil laut lain kepada pembeli dalam
keadaan masih segar.
Pada
2004, Susi
memutuskan membeli sebuah Cessna Caravan seharga Rp20
miliar menggunakan pinjaman bank. Melalui PT ASI Pudjiastuti Aviation yang ia
dirikan kemudian, satu-satunya pesawat yang ia miliki itu ia gunakan untuk
mengangkut lobster dan ikan segar
tangkapan nelayan di berbagai pantai di Indonesia ke pasar Jakarta dan Jepang. Call sign yang digunakan Cessna itu
adalah Susi Air. Dua hari setelah gempa tektonik dan tsunami Aceh melanda Aceh dan pantai barat Sumatera pada 26 Desember 2004, Cessna Susi adalah pesawat pertama yang
berhasil mencapai lokasi bencana untuk mendistribusikan bantuan kepada para
korban yang berada di daerah terisolasi. Peristiwa itu mengubah arah bisnis
Susi. Di saat bisnis perikanan mulai merosot, Susi menyewakan pesawatnya itu
yang semula digunakan untuk mengangkut hasil laut untuk misi kemanusiaan.
Selama tiga tahun berjalan, maka perusahaan penerbangan ini semakin berkembang
hingga memiliki 14 pesawat, ada 4 di Papua, 4 pesawat di Balikpapan, Jawa dan Sumatera. Perusahaannya memiliki 32
pesawat Cessna Grand Caravan, 9 pesawat Pilatus Porter, 1 pesawat
Diamond star dan 1 buah pesawat Diamond Twin star. Sekarang Susi Air memiliki
49 dan mengoperasikan 50 pesawat terbang beragam jenis.
Susi
menerima banyak penghargaan antara lain:
·
Primaniyarta Award for Best Small
& Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden Republik Indonesia. Tahun
2006.
·
Berprestasi Award dari PT
Exelcomindo.
·
Award for Innovative
Achievements, Extraordinary Leadership and Significant Contributions to the
Economy, APEC, 2011.
Pada
tahun 2008, ia
mengembangkan bisnis aviasinya dengan membuka sekolah pilot Susi Flying School melalui PT ASI Pudjiastuti Flying School. Pada Minggu, 26 Oktober 2014, dalam pengumuman Kabinet Kerja
Pemerintahan Jokowi-JK Ibu Susi Pudjiastuti ditetapkan oleh Presiden RI Joko
Widodo menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.
Ia
sempat dua kali bercerai dan kemudian menikah dengan Christian von Strombeck.
Dari pernikahan-pernikahannya, ia memiliki tiga orang anak, Panji Hilmansyah,
Nadine Kaiser (dari pernikahannya dengan Daniel Kaiser), dan Alvy Xavier.
2.2
BISNIS DAN GAYA EKSENTRIK SUSI PUDJIASTUTI. [2]
Gayanya yang eksentrik, bicaranya
ceplas-ceplos. Selain nada suaranya yang berat, layaknya kaum adam, tak jarang
wanita ini juga menghisap sebatang rokok filter membuat kesan 'angker' dengan
orang yang berhadapan di depannya.
Ditambah gambar tato di beberapa
bagian tubuh serta kerut di wajah wanita ini mungkin bisa menggambarkan betapa
keras jalur hidup yang ditempuhnya. Menteri Kelautan
dan Perikanan yang baru, Susi Pujiastuti (50) sebagai wanita bisnis memang
merangkak dari bawah. Dilahirkan dari kalangan pedagang, Susi memulai
karirnya sebagai pedagang ikan segar. Ia sukses di industri perikanan
modern dan penerbangan carter beraset ratusan miliar rupiah.Masing-masing
adalah PT ASI Pujiastuti Marine Product yang bergerak di bisnis perikanan, dan
Susi Air yang merupakan maskapai sewa dengan hampir 50 pesawat propeler jenis
Cessna Grand Caravan dan Avanti. Dari dua perusahaan itu, Susi bisa menghidupi
ribuan karyawan.
Jalan hidup wanita ini memang
penuh liku. Seusai memutuskan keluar dari bangku SMA di daaerah perbatasan
Cilacap dengan Jawa Barat, Jawa Tengah, pada 1983, Susi mulai menjalani
pekerjaannya sebagai pengepul ikan dengan modal pas-pasan.
Usahanya terus berkembang. Tidak
puas hanya berbisnis ikan laut di satu daerah, Susi mulai melirik daerah
Pangandaran di pantai selatan Jawa Barat. Ternyata, di sana keberuntungan Susi
datang. Usaha perikanannya maju pesat. Jika semula dia hanya memperdagangkan
ikan dan udang, maka Susi mulai memasarkan komoditas yang lebih berorientasi
ekspor, yaitu lobster. Dia membawa dagangannya
sendiri ke Jakarta untuk ditawarkan ke berbagai restoran seafood dan diekspor.
Ternyata pasar yang lebih luas masih membentang luas, ekspor lobster. Karena
besarnya permintaan luar negeri, untuk menyediakan stok lobster, Susi pun harus
berkeliling Indonesia mencari sumber suplai lobster.
Saat itu masalah timbul. Problem
justru karena stok melimpah, namun transportasi, terutama udara, sangat
terbatas. Untuk mengirim dengan kapal laut terlalu lama karena lobster bisa
terancam busuk atau menurun kualitasnya.
Pada saat itulah timbul ide Susi
lainnya untuk membeli sebuah pesawat. Gayung bersambut,sang suami Christian von
Strombeck, yang merupakan pilot berkewarganegaraan Jerman mendukungnya. Sebagai
pilot pesawat carteran, Christian sudah berpengalaman dalam bisnis pesawat.
Sebuah pesawat jenis Cessna dia
beli. Alat transportasi itu sangat membantunya mengangkut lobster dari
daerah-ke daerah lainnya. Dibandingkan
diangkut dengan darat yang butuh waktu relatif lama dan banyak lobster yang
mati di jalan, tentu pengangkutan dengan pesawat ini lebih ekonomis. Ia juga
mampu meningkatkan produktivitas perdagangan ikannya. Nilai jual komoditas
nelayan di daerah juga naik.
“Nelayan bisa mendapatkan nilai
tambah. Misalnya saja, lobster di Pulau Mentawai yang tadinya hanya dijual Rp
40.000 per kilo ke tengkulak, setelah itu bisa dinaikkan menjadi Rp 80.000 per
kilo saat itu. Uang lebih bisa dikantongi nelayan, karena tanggungan biaya
transportasi turun drastis,” kata Susi kepada Tribunnews.com, saat itu.
Jadi, kebutuhan terhadap pesawat
penumpang pun semakin meningkat seiring dengan ekspor yang terus bertambah.
Belakangan, pesawat yang tadinya hanya untuk mengangkut barang dagangan laut,
dia coba sewakan kepada masyarakat yang ingin menumpang.
“Ternyata, permintaan
transportasi sangat besar karenanya kita pun mengembangkan bisnis pesawat carter
ini dan Susi Air,” ujarnya.
Saat ini, Susi Air memiliki 46
pesawat kecil, antara lain jenis Cessna Grand, Avanti, dan Porter. Harga
pesawat Cessna hampir mencapai Rp 20 miliar per unit. Adapun harga pesawat
Avanti bisa empat kali lebih mahal. Bisa dibilang, Susi Air saat ini telah
merajai dari maskapai carteran di Indonesia.
Susi tidak puas begitu saja
dengan pencapaiannya. Wanita beranak tiga ini juga telah membangun
sekolah pilot di Pangandaran. Ia beralasan, selain untuk memenuhi kebutuhan
pilot juga membangun SDM dari Pangandaran dan sekitarnya, tempat kantor pusat
Susi Air itu berdiri. Hal ini juga untuk mengurangi jumlah pilot asing yang
masih mewarnai maskapai tersebut. Bisnis
Lobsternya sempat goyang saat terjadi bencana tsunami di selatan Pulau Jawa
pada pertengahan 2000-an. Menurutnya, saat itu hampir seluruh nelayan lobster
bangkrut bahkan banyak yang menjadi korban. Dari ekspor yang setahunnya bisa
mencapai 10 juta dollar AS, saat itu jatuh hingga menjadi 1 juta dollar saja.
"Cukup lama untuk merecovery, butuh
bertahun-tahun agar nelayan bisa kembali mendapatkan bisnis mereka
kembali," ujarnya. (Hendra
Gunawan).
2.3 PERUBAHAN PROFESI SUSI PUDJIASTUTI.
Ijazah
sarjana tak bisa jadi jaminan kesuksesan seseorang di masa depan. Teori itu
bisa dibuktikan oleh Susi Pujiastuti. Meski hanya lulusan SMP, dia bisa
membalik garis nasib yang semula hanya seorang bakul ikan menjadi pemilik
maskapai penerbangan.
Mungkin
bagi sebagian besar orang pendidikan formal adalah modal utama untuk meraih
impian masa depan. Tapi bagi Susi Pujiastuti, dia harus bisa menerima kenyataan
pahit, ketika gagal menyelesaikan pendidikan bangku SMAnya, dia malah memilih
DO.
Seusai
memutuskan keluar dari bangku SMA di Cilacap, Jawa Tengah, pada 1983, ia pulang
ke Pangandaran dan mencoba berjualan aneka barang seperti baju, bedcover, dan
sebagainya.
Namun
akhirnya ia menemukan potensi Pangandaran, yaitu ikan. Dengan modal Rp 750 ribu
hasil penjualan perhiasan miliknya, ia mulai berjualan ikan dengan cara membeli
ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan menjualnya ke restoran-restoran. Hari
pertamanya ia hanya berhasil menjual 1 kg ikan. Itupun ke restoran kenalannya.
Meski
jalan untuk menembus pintu restoran tak berjalan mulus, tak membuatnya mundur.
Ia terus mencoba lagi hari-hari berikutnya. Meski tak mudah, akhirnya ia bia
menguasai pasar Pangandaran setahun kemudian. Lalu ia mencoba menjual ikan-ikan
dari Pangandaran ke Jakarta dengan menyewa truk. Berangkat jam tiga sore sampai
di Jakarta tengah malam menjadi kegiatan sehari-harinya.
Tapi
dengan keuletan dan kesabarannya, setahap demi setahap usahanya terus
berkembang. Setahun kemudian, dia berhasil menguasai pasar Cilacap. Tidak puas hanya
berbisnis ikan laut di satu daerah, Susi mulai melirik daerah Pangandaran di
pantai selatan Jawa Barat.
Ternyata,
di sana keberuntungan Susi datang. Usaha perikanannya maju pesat. Jika semula
dia hanya memperdagangkan ikan dan udang, maka Susi mulai memasarkan komoditas
yang lebih berorientasi ekspor, yaitu lobster.
Dia
membawa dagangannya sendiri ke Jakarta untuk ditawarkan ke berbagai restoran
seafood dan diekspor. Karena permintaan luar negeri sangat besar, untuk
menyediakan stok lobster, Susi harus berkeliling Indonesia mencari sumber
suplai lobster.
Masalah
pun timbul. Problem justru karena stok sangat banyak, tetapi transportasi,
terutama udara, sangat terbatas. Untuk mengirim dengan kapal laut terlalu lama
karena lobster bisa terancam busuk atau menurun kualitasnya.
Pemilik
Maskapai. [4]
Pada
saat itulah timbul ide Susi lainnya untuk membeli sebuah pesawat. Christian von
Strombeck, suaminya yang kebetulan warga negara asing yang berprofesi sebagai
pilot pesawat carteran asal Jerman mendukungnya.
Ceritanya,
setelah menikah dengan pilot asal Jerman itu, Susi berangan-angan mengangkut
ikannya menggunakan pesawat. Angan-angan itu timbul karena dengan menggunakan
truk yang memakan waktu sembilan jam perjalanan, ikan-ikannya mati sesampai di
Jakarta. Itulah yang membuat harga ikannya jatuh. Dengan pesawat cuma
diperlukan satu jam sehingga harga ikannya pasti tinggi karena lebih segar.
Tahun
2000, Susi mencoba mengajukan pinjaman ke bank untuk merealisasikan rencana
itu. Namun rencananya itu ditertawakan pihak bank dan sudah tentu pengajuan
kreditnya ditolak. Baru pada tahun 2004, ada bank yang mau mengabulkan
kreditnya. Dari Bank Mandiri, ia mendapat pinjaman Rp 47 miliar yang ia gunakan
untuk membuat landasan di Pangandaran dan membeli dua pesawat Cessna.
Namun
sebulan setelah pengoperasian pesawatnya, terjadi bencana tsunami di Aceh.
Naluri kemanusiaannya terusik. Ia terbang ke Aceh untuk memberi bantuan.
Pesawat Susilah, pesawat pertama yang mendarat di Aceh setelah bencana itu.
Besoknya ia membawa barang-barang bantuan seperti beras, mi instan, dan
sebagainya. Susi dan pesawatnya pun berkutat di Aceh mendistribusikan
barang-barang bantuan.
Rencananya,
ia “hanya” memberi bantuan sarana angkutan gratis selama 2 minggu, namun banyak
LSM dalam dan luar negeri yang memintanya tetap di sana dan mereka bersedia
menyewa pesawat Susi. Dari sanalah lahir nama Susi Air sebagai usaha penyewaan
pesawat. Di sisi lain, alat transportasi itu sangat membantunya meningkatkan
produktivitas perdagangan ikannya. Nilai jual komoditas nelayan di daerah juga
naik.
“Nelayan
bisa mendapatkan nilai tambah. Misalnya saja, lobster di Pulau Mentawai yang
tadinya hanya dijual Rp 40.000 per kilo, setelah itu bisa dinaikkan menjadi Rp
80.000 per kilo saat itu,” kata Susi dilansir Persda Network.
Jadi,
kebutuhan terhadap pesawat penumpang pun semakin meningkat seiring dengan
ekspor yang terus bertambah. Belakangan, pesawat yang tadinya hanya untuk
mengangkut barang dagangan laut, dia coba sewakan kepada masyarakat yang ingin
menumpang.
“Ternyata,
permintaan transportasi sangat besar karenanya kita pun mengembangkan bisnis
pesawat carter ini dan Susi Air,” ujar perempuan kelahiran Pangandaran tahun
1965 ini.
Saat
ini, Susi Air memiliki 50 pesawat kecil, antara lain jenis Cessna Grand,
Avanti, dan Porter yang dioperasikan oleh 80 pilot. Sebanyak 26 pilot di
antaranya adalah pilot asing. Maskapai Susi Air saat ini beroperasi di hampir
semua daerah pelosok di Indonesia. “Yang penting kita tingkatkan layanan agar
pelanggan semakin suka pada kita,” ujarnya berfalsafah. berbagai sumber.
PT ASI
Pudjiastuti Aviation operator maskapai penerbangan Susi Air tahun ini membidik
pendapatan sebesar Rp400 miliar setelah mendapatkan sejumlah rute baru dan
menambah beberapa pesawat.
Presiden Direktur
PT ASI Pudjiastuti Aviation Susi Pudjiastuti menjelaskan pada 2013 pihaknya
menargetkan peningkatkan pendapatan Rp400 miliar setelah tahun lalu memperoleh
pendapatan Rp300 miliar.
Pudjiastuti
menambahkan pada tahun ini pihaknya menargetkan akan mendatangkan 16 pesawat
yang akan digunakan untuk sejumlah rute penerbangan perintis.
“Tiga pesawat
yang sudah kita kontrak senilai 6 juta Swiss Franc. Satu pesawat sudah tiba
Maret 2013 dan dua pesawat lagi Mei dan Juni akan datang,” ujarnya kepada
Bisnis, Rabu (1/5/2013).
Dia menambahkan
3 pesawat yang dibeli pada awal 2013 merupakan pesawat jenis Pilatus Porter
asal Swiss.
Selain itu 10
pesawat lainnya akan didatangkan hingga akhir tahun dengan investasi mencapai
US$70 juta.
Susi Air,
imbuhnya, juga pada 2013 memperoleh 30 rute penerbangan baru dan saat ini
pihaknya telah melayani 200 rute penerbangan perintis.
Menurutnya
pesawat baru itu akan digunakan pada sejumlah rute penerbangan antar kabupaten
di Sumatra bagian Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi dan Papua.
Menurutnya saat
ini pihaknya memiliki 46 pesawat dengan berbagai tipe seperti Cessna Grand
Caravan, Pilatus PC-06 Porter dan Piaggio P180 Avanti. [5]
Mentri
Kelautan dan Perikanan.
Setelah
dilntik pada tanggal 27 oktober 2014 Susi resmi menjadi mentri kelautan dan
perikanan pada presiden Jokowi yang di kenal dengan “kabinet kerja”. Susi
merupakan mentri kelautan ke-6 dalam
sejarah kabinet di Indonesia, sebelumnya mentri kelautan dan perikanan dipindah
tangankan dari Sharif Cicip Sutarjo kepada beliau.
Pada
saat ini susi merupakan seorang mentri dari kabinet jokowi yang sangat di
pertanyakan kontribusinya, karena berdasarkan pendidikannya susi merupakan satu-satunya mentri yang tidak menamatkan
S2-nya, bahkan susi hanya memiliki
ijazah SMP karena beliau hanya menginjak dunia SMA sampai kelas 2 saja.[6]
Perhatian
publik banyak tersedot ke kiprah menri wanita asal pangandaran ini. Ada saja
gebrakan setiap harinya. Penguasaan materi tentang kementriannya dan skill
manejerialnya mempuni. Yang juga menonjol, nyalinya yang tinggi untuk melakukan
perubahan di bidangnya.
Ia
seorang yang nothing to lose dengan
kursi mentri yng di dudukinya, kapan saja iya siap “pilang kampung” bila
lingkunga gerah menerima aksi-aksi
perubahanya. Atau, bila tembok penghalang terlalu tinggi dan tebal sehingga
membuatnya harus terpental.
Kita
bertahap mentri model bergiliran yang harus terus mendapat suntikan semangat
terlebih dukungan kekuasaan lebih besar, karena agenda yang akan diubahnya juga
berdampak luas pada perubahan wajah republik ini. Susi jangan dibiarkan
sendiri. Harus yang benar-banar berdiri kuat mendukungnya dari belakang.
Yang
akan diperangi mentri Kelautan dan Perikanan ini adalah lapangan usaha yang
penuh dengan jaringan mafianya. Betapa tidak, nilai ekonomi yang di hasilkan
dari kegiatan perdagangan di sector ini luar biasa besar. Penyimpanan pasarnya
sudah keterlaluan.
Mentri
Susi tidak boleh di biarkan sendiri memperjuangkan semuanya. Kita harus di
ambil bagian dari kesungguhannya bekerja meningkatkan harkat dan martabat para
nelayan kita skla mikro, dan kita sebagi bngsa masitim. Jangan smpai kita
sepetri “ayam mati di lumbung padi”. Bravo Susi ! You are not alone !. [7]
2.4
KEGIATAN SUSI PUDJIASTUTI SETELAH DI LANTIK.
Pada
masa kabinet kerja Jokowi saat ini belum banyak kontribusi yang diberikan oleh
para mentri-mentrinya, tapi dari
beberapa sudah melakukan wasiat pemimpinya yaitu melakukan terjun langsung ke
lapangan yang sering di sebut dengan istilah “blusukan”, ada yang meloncat
pagar, ada yang menuju kampung halamanya.
Susi
Pudjiastuti pun melakukan blusukan ke kampong halamanya di pangandaran, jawa
barat, Yang di juluki sebagai kampung nelayan.
Setiba
di kampung halamanya Susi Pudjiastuti pun langsung bercengkrama dengan teman
semasa kecilnya, bahkan Susi sempat mengusap air matanya dengan menggunakan
bajunya sendiri, saat beliau di nasehati oleh orang tua-tua di kampungnya yang
sudah dianggapnya seperti guru.
Susi
sempat berpidato di depan warga kampungnya dan berjanji “saya akan memberantas
pihak asing yang meminjam bendera Indonesia dan mengambil hasil laut Negara
kita untuk di bawa kenegara mereka”. [8]
Susi
juga sudah mengadakan pertemuan-pertemuan penting dengan beberapa perwakilan
Negara sahabat.
Blake
(kedutaan besar AS) dan susi menggelar pertemuan selama 1 jam. Peretmuan
digelar di ruangan mina bahari I, kantor kementrian kelautan dan perikanan di
Jakarta, kemaren pagi. Setelah pertemuan ini, kedunya menggelar jumpa pers
bersama.
Blake
yang diberikan kesempatan berbicara duluan, mengaku membicarakan bnyak hal
dengan susi. Namun, di tegaskan katanya, pada intinya membahas komitmen AS
mendukung gebrakan yang bilakukan Susi dalam memberantas praktik pencurian
ikan.
“saya
mengucapkan terima kasih kepada ibu mentri. Hari ini kita sudah bekerja sama
dengan Indonesia untuk memerangi illegal
fisihing dan konserfasi maritime,” puji Blake.
Blake
mengungkapkan, peremuan itu juga membicarakan rencana AS memberikan bantuan fasilitas
infrasrtuktur kepada polisi untuk meningkatkan pengawasan laut.
Dia
menegaskan, AS mendukung penegakan hukum di laut Indonesia bias lebih baik
lagi. Menurtnya, laut Indonesia sangat penting karena 2/3 wilayah Negara ini
merupakan lautan.
Hal
lain yng dibicarakan dengan Susi ialah berebagi pengalaman dan pengetahuan.
Blake bercerita, dirinya di berikan banyak pekerjaan rumah(PR) yang berat oleh
Susi. “ibu mentri dan saya sudah berbagi byak data. Beliau sudah memberikan
banyak sekali PR dan saya dengan senang hati akan mempelajari itu,” imbuhnya.
Selain
dengan dubes AS, Susi sudah bertemu delapan perwakilan Negara-negara asing.
Antara lain dengan dubes Malaysia Dato Zahrin Muhammed Hasyim, dubes Vietnam
Nyuyen Xuan Thui, kuasa usaha duta besar Filipina Roberto G. Manalo, wakill
dubes Australia David Engel.[9]
2.5
KAITAN MASALAH INI DENGAN MATERI CIVIC EDUCATION
Masalah
pelantikan seorang mentri perempuan dapat di kaitkan dengan materi Civic
Education tentang HAM, yaitu hubungan gender dan HAM. Istilah gender harus
debedakan dengan jenis kelamin (seks). Gender mengacu kepada perbedaan peranan
antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh budaya, sedangkan seks
memiliki pengertian perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan secara
biologis.[10]
Susi
Pudjiastuti merupakan salah satu mentri kabinet kerja Jokowi yang berasal dari
kalangan perempuan. Akan tetapi Susi pun menepiskan anggapan bahwa seorang
perempuan itu bersifat lemah, dan hanya pantas bekerja sebagai ibu rumah
tanggga saja.
Susi
Pudjiastuti merupakan salah satu sosok kartini dalam kabinet kerja Jokowi yang
memulai hidupnya dari bawah yaitu sebagai pedagang ikan, dan beranjak menjadi
pemilik maskapai penerbangan hingga saat ini Susi sukses seperti sekarang menjadi seorang mentri perempuan dalam
kabinet kerja Jokowi.
Jadi,
Gender bukanlah alasan untuk kita merasa lebih tinggi atau lebih rendah dari
orang lain. Seperti contoh ibuk Susi Pudjiastuti, Ia menepis pandangan kita
tentang peremppuan yang bersifat lemah, Ia berusaha semaksimal mungkin agar
mencapi kesuksesan yang saat ini telah beliau raih.
LAMPIRAN
BAB
III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Susi
Pudjiastuti adalah mentri kelautan dan perikanan yang di lahiran di pangandaran
pada tanggal 15 januari 1965. Ia merupaka anak dari Haji Ahmad Karlan dan
Hajjah Suwuh Lasminah berasal dari Jawa Tengah yang sudah lima
generasi lahir dan hidup di Pangandaran. Ia dibesarkan dari kempung yang
dijuluki sebagai kampumg nelayan.
Sebelum
menjadi seorang mentri Susi Pudjiastuti sempat menjajaki berbagi pekerjaan yang
penghasilannya sangat besar, seperti menjadi penjual ikan di pasar pelelangan
ikan di kampungnya, setelah memiliki suami seorang pilot, Susi mengembangkan
usahnya di bidang transportasi udara yaitu pemilik maskapai SUSI AIR yang memiliki pendapatn tahun
2014 sebesar 400 milyar.
Susi
pudjiastuti merupakan satu-satunya mentri kabinet kerja Jokowi yang sidak
menamatkan S2-nya. Bahkan Ia hanya memiliki ijazah SMP. Karena hanya mencicipi
jenjang pendidikan sampai kelas 2 SMA. Dengan riwayat pendidikan yang sangat
rendah, Susi sempat dipertanyakan keridibilitasnya ebagai seorang mentri, yang
jabatangya sngat penting dalam sebuah Negara karena merpakan kaki tangan dari
seorang persiden.
Setelah
dilantik Susi mulai melakukan gebrakanya dengan melakukan BLUSUKAN menuju kampung halamanya yang di kenal sebagai kampung
nelayan. Susi juga melakukan pertemuan dengan Negara sahabat, seperti duta
besar AS, dubes Malaysia Dato Zahrin Muhammed Hasyim, dubes Vietnam Nyuyen Xuan
Thui, kuasa usaha duta besar Filipina Roberto G. Manalo, wakill dubes Australia
David Engel.
3.2
SARAN
Semoga
kabinet jokowi yang dilantik pada tanngal 27 oktober kemaren menjalankan
fungsinya dengan semstinya agar terjadi keselarasan pemerintahan, kemakmuran masyarakat
menjadi meninggkat.
Dengan
gebrakan yang di lakukan oleh seorang wanita yang bernama Susi Pudjiastuti,
semoga memotivasi kita untuk melakukan usaha dalam kehidupan kita sehingga kita
mendapat kesuksesan yang ingin kita raih.
3.3 DAFTAR
PUSTAKA :
Harian Rakyat Merdeka. jum’at, 7 november 2014
Kabar pagi, TV ONE. Rabu, 5 november 2014/07:15
Kabar petang, TV ONE. Kamis, 6 november 2014/18:15
http://id.wikipedia.orgwikiSusi_Pudjiastuti.htm
http://Susi Air Bidik Pendapatan Rp400 miliar pada
2013 _ Industri - Bisnis.com
http://www.mypangandaran.comartikeldetailsosok-dan-profil74susi-pujiastuti-dari-bakul-ikan-jadi-pemilik-maskapai.html
http://KOMPAS.com_Ekonomi
/ BisnisBisnis
dan Gaya Eksentrik Susi Pudjiastuti_Senin, 27
Oktober 2014 | 15:12 WIB
Ubaedillah, 2012, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani, Jakarta
Selatan : ICCE UIN Syarif Hidayatulloh
[1] Http://id.wikipedia.orgwikiSusi_Pudjiastuti.htm
[2] http://KOMPAS.com_Ekonomi / BisnisBisnis dan Gaya Eksentrik Susi Pudjiastuti_Senin,
27 Oktober 2014 | 15:12 WIB
[3] http://www.mypangandaran.comartikeldetailsosok-dan-profil74susi-pujiastuti-dari-bakul-ikan-jadi-pemilik-maskapai.html
[4] Ibid.
[5] http://liputan6.
Susi Air Bidik Pendapatan Rp400 miliar pada 2013 _ Industri - Bisnis.com
[6] Kabar pagi, TV ONE. Rabu, 5
november 2014/07:15
[7] Harian Rakyat Merdeka.Mentri Susi. jum’at, 7 november 2014.
[8] Kabar petang, TV ONE. Kamis 6
november 2014/18:15
[9] Harian Rakyat Merdeka.Mentri Susi Dikunjungi Dubes AS Selam 1 jam. jum’at, 7 november 2014. Hal
13
[10] Ubaedillah, 2012,
Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan
Masyarakat Madani, Jakarta Selatan : ICCE UIN Syarif Hidayatulloh. Hal. 227
Tidak ada komentar:
Posting Komentar