Kamis, 24 September 2015

inspirasi


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 BIOGRAFI SUSI PUDJIASTUTI.  [1]
Berkas:Susi Pudjiastuti.jpg

Susi Pudjiastuti (lahir di Pangandaran, 15 Januari 1965; umur 49 tahun) adalah seorang Menteri Kelautan dan Perikanan dari Kabinet Kerja 2014-2019 yang juga pengusaha pemilik dan Presdir PT ASI Pudjiastuti Marine Product, eksportir hasil-hasil perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation atau penerbangan Susi Air dari Jawa Barat. Hingga awal tahun 2012, Susi Air mengoperasikan 50 pesawat dengan berbagai tipe seperti 32 Cessna Grand Caravan, 9 Pilatus PC-6 Porter dan 3 Piaggio P180 Avanti. Susi Air mempekerjakan 180 pilot, dengan 175 di antaranya merupakan pilot asing. Tahun 2012 Susi Air menerima pendapatan Rp300 miliar dan melayani 200 penerbangan perintis.
Ayah dan ibunya Susi Pudjiastuti yaitu Haji Ahmad Karlan dan Hajjah Suwuh Lasminah berasal dari Jawa Tengah yang sudah lima generasi lahir dan hidup di Pangandaran. Keluarganya adalah saudagar sapi dan kerbau, yang membawa ratusan ternak dari Jawa Tengah untuk diperdagangkan di Jawa Barat. Kakek buyutnya Haji Ireng dikenal sebagai tuan tanah. Susi hanya memiliki ijazah SMP. Setamat SMP ia sempat melanjutkan pendidikan ke SMA. Di SMA Negeri 1 Yogyakarta, dia berhenti sekolah saat kelas dua.
Setelah tidak lagi bersekolah, dengan modal Rp750 ribu hasil menjual perhiasan, pada 1983 Susi mengawali profesi sebagai pengepul ikan di Pangandaran. Bisnisnya terus berkembang, dan pada 1996 Susi mendirikan pabrik pengolahan ikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dengan produk unggulan berupa lobster dengan merek “Susi Brand”. Ketika bisnis pengolahan ikannya meluas dengan pasar hingga ke Asia dan Amerika, Susi memerlukan sarana transportasi udara yang dapat dengan cepat mengangkut lobster, ikan, dan hasil laut lain kepada pembeli dalam keadaan masih segar.
Pada 2004, Susi memutuskan membeli sebuah Cessna Caravan seharga Rp20 miliar menggunakan pinjaman bank. Melalui PT ASI Pudjiastuti Aviation yang ia dirikan kemudian, satu-satunya pesawat yang ia miliki itu ia gunakan untuk mengangkut lobster dan ikan segar tangkapan nelayan di berbagai pantai di Indonesia ke pasar Jakarta dan Jepang. Call sign yang digunakan Cessna itu adalah Susi Air. Dua hari setelah gempa tektonik dan tsunami Aceh melanda Aceh dan pantai barat Sumatera pada 26 Desember 2004, Cessna Susi adalah pesawat pertama yang berhasil mencapai lokasi bencana untuk mendistribusikan bantuan kepada para korban yang berada di daerah terisolasi. Peristiwa itu mengubah arah bisnis Susi. Di saat bisnis perikanan mulai merosot, Susi menyewakan pesawatnya itu yang semula digunakan untuk mengangkut hasil laut untuk misi kemanusiaan. Selama tiga tahun berjalan, maka perusahaan penerbangan ini semakin berkembang hingga memiliki 14 pesawat, ada 4 di Papua, 4 pesawat di Balikpapan, Jawa dan Sumatera. Perusahaannya memiliki 32 pesawat Cessna Grand Caravan, 9 pesawat Pilatus Porter, 1 pesawat Diamond star dan 1 buah pesawat Diamond Twin star. Sekarang Susi Air memiliki 49 dan mengoperasikan 50 pesawat terbang beragam jenis.

Susi menerima banyak penghargaan antara lain:
·      Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat tahun 2004.
·      Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005.
·      Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden Republik Indonesia. Tahun 2006.
·      Metro TV Award for Economics-2006.
·      Inspiring Woman 2005 dan Eagle Award 2006 dari Metro TV, Indonesia.
·      Berprestasi Award dari PT Exelcomindo.
·      Sofyan Ilyas Award dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2009.
·      Ganesha Widyajasa Aditama Award dari ITB, 2011.
·      Award for Innovative Achievements, Extraordinary Leadership and Significant Contributions to the Economy, APEC, 2011.
·      Tokoh Wanita Inspiratif Penggerak Pembangunan, dari Gubernur Jawa Barat, 2008.

Pada tahun 2008, ia mengembangkan bisnis aviasinya dengan membuka sekolah pilot Susi Flying School melalui PT ASI Pudjiastuti Flying School. Pada Minggu, 26 Oktober 2014, dalam pengumuman Kabinet Kerja Pemerintahan Jokowi-JK Ibu Susi Pudjiastuti ditetapkan oleh Presiden RI Joko Widodo menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.
Ia sempat dua kali bercerai dan kemudian menikah dengan Christian von Strombeck. Dari pernikahan-pernikahannya, ia memiliki tiga orang anak, Panji Hilmansyah, Nadine Kaiser (dari pernikahannya dengan Daniel Kaiser), dan Alvy Xavier.







2.2 BISNIS DAN GAYA EKSENTRIK SUSI PUDJIASTUTI. [2]

Gayanya yang eksentrik, bicaranya ceplas-ceplos. Selain nada suaranya yang berat, layaknya kaum adam, tak jarang wanita ini juga menghisap sebatang rokok filter membuat kesan 'angker' dengan orang yang berhadapan di depannya.
Ditambah gambar tato di beberapa bagian tubuh serta kerut di wajah wanita ini mungkin bisa menggambarkan betapa keras jalur hidup yang ditempuhnya. Menteri Kelautan dan Perikanan yang baru, Susi Pujiastuti (50) sebagai wanita bisnis memang merangkak dari bawah. Dilahirkan dari kalangan pedagang, Susi memulai karirnya  sebagai pedagang ikan segar. Ia sukses di industri perikanan modern dan penerbangan carter beraset ratusan miliar rupiah.Masing-masing adalah PT ASI Pujiastuti Marine Product yang bergerak di bisnis perikanan, dan Susi Air yang merupakan maskapai sewa dengan hampir 50 pesawat propeler jenis Cessna Grand Caravan dan Avanti. Dari dua perusahaan itu, Susi bisa menghidupi ribuan karyawan.
Jalan hidup wanita ini memang penuh liku. Seusai memutuskan keluar dari bangku SMA di daaerah perbatasan Cilacap dengan Jawa Barat, Jawa Tengah, pada 1983, Susi mulai menjalani pekerjaannya sebagai pengepul ikan dengan modal pas-pasan.
Usahanya terus berkembang. Tidak puas hanya berbisnis ikan laut di satu daerah, Susi mulai melirik daerah Pangandaran di pantai selatan Jawa Barat. Ternyata, di sana keberuntungan Susi datang. Usaha perikanannya maju pesat. Jika semula dia hanya memperdagangkan ikan dan udang, maka Susi mulai memasarkan komoditas yang lebih berorientasi ekspor, yaitu lobster. Dia membawa dagangannya sendiri ke Jakarta untuk ditawarkan ke berbagai restoran seafood dan diekspor. Ternyata pasar yang lebih luas masih membentang luas, ekspor lobster. Karena besarnya permintaan luar negeri, untuk menyediakan stok lobster, Susi pun harus berkeliling Indonesia mencari sumber suplai lobster.
Saat itu masalah timbul. Problem justru karena stok melimpah, namun transportasi, terutama udara, sangat terbatas. Untuk mengirim dengan kapal laut terlalu lama karena lobster bisa terancam busuk atau menurun kualitasnya.
Pada saat itulah timbul ide Susi lainnya untuk membeli sebuah pesawat. Gayung bersambut,sang suami Christian von Strombeck, yang merupakan pilot berkewarganegaraan Jerman mendukungnya. Sebagai pilot pesawat carteran, Christian sudah berpengalaman dalam bisnis pesawat.
Sebuah pesawat jenis Cessna dia beli. Alat transportasi itu sangat membantunya mengangkut lobster dari daerah-ke daerah lainnya. Dibandingkan diangkut dengan darat yang butuh waktu relatif lama dan banyak lobster yang mati di jalan, tentu pengangkutan dengan pesawat ini lebih ekonomis. Ia juga mampu meningkatkan produktivitas perdagangan ikannya. Nilai jual komoditas nelayan di daerah juga naik.
“Nelayan bisa mendapatkan nilai tambah. Misalnya saja, lobster di Pulau Mentawai yang tadinya hanya dijual Rp 40.000 per kilo ke tengkulak, setelah itu bisa dinaikkan menjadi Rp 80.000 per kilo saat itu. Uang lebih bisa dikantongi nelayan, karena tanggungan biaya transportasi turun drastis,” kata Susi kepada Tribunnews.com, saat itu.
Jadi, kebutuhan terhadap pesawat penumpang pun semakin meningkat seiring dengan ekspor yang terus bertambah. Belakangan, pesawat yang tadinya hanya untuk mengangkut barang dagangan laut, dia coba sewakan kepada masyarakat yang ingin menumpang.
“Ternyata, permintaan transportasi sangat besar karenanya kita pun mengembangkan bisnis pesawat carter ini dan Susi Air,” ujarnya.
Saat ini, Susi Air memiliki 46 pesawat kecil, antara lain jenis Cessna Grand, Avanti, dan Porter.  Harga pesawat Cessna hampir mencapai Rp 20 miliar per unit. Adapun harga pesawat Avanti bisa empat kali lebih mahal. Bisa dibilang, Susi Air saat ini telah merajai dari maskapai carteran di Indonesia.
Susi tidak puas begitu saja dengan pencapaiannya.  Wanita beranak tiga ini juga telah membangun sekolah pilot di Pangandaran. Ia beralasan, selain untuk memenuhi kebutuhan pilot juga membangun SDM dari Pangandaran dan sekitarnya, tempat kantor pusat Susi Air itu berdiri. Hal ini juga untuk mengurangi jumlah pilot asing yang masih mewarnai maskapai tersebut. Bisnis Lobsternya sempat goyang saat terjadi bencana tsunami di selatan Pulau Jawa pada pertengahan 2000-an. Menurutnya, saat itu hampir seluruh nelayan lobster bangkrut bahkan banyak yang menjadi korban. Dari ekspor yang setahunnya bisa mencapai 10 juta dollar AS, saat itu jatuh hingga menjadi 1 juta dollar saja.
"Cukup lama untuk merecovery, butuh bertahun-tahun agar nelayan bisa kembali mendapatkan bisnis mereka kembali," ujarnya. (Hendra Gunawan).




2.3 PERUBAHAN PROFESI SUSI PUDJIASTUTI.

Pedagang Ikan. [3]

Ijazah sarjana tak bisa jadi jaminan kesuksesan seseorang di masa depan. Teori itu bisa dibuktikan oleh Susi Pujiastuti. Meski hanya lulusan SMP, dia bisa membalik garis nasib yang semula hanya seorang bakul ikan menjadi pemilik maskapai penerbangan.
Mungkin bagi sebagian besar orang pendidikan formal adalah modal utama untuk meraih impian masa depan. Tapi bagi Susi Pujiastuti, dia harus bisa menerima kenyataan pahit, ketika gagal menyelesaikan pendidikan bangku SMAnya, dia malah memilih DO.
Seusai memutuskan keluar dari bangku SMA di Cilacap, Jawa Tengah, pada 1983, ia pulang ke Pangandaran dan mencoba berjualan aneka barang seperti baju, bedcover, dan sebagainya.
Namun akhirnya ia menemukan potensi Pangandaran, yaitu ikan. Dengan modal Rp 750 ribu hasil penjualan perhiasan miliknya, ia mulai berjualan ikan dengan cara membeli ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan menjualnya ke restoran-restoran. Hari pertamanya ia hanya berhasil menjual 1 kg ikan. Itupun ke restoran kenalannya.
Meski jalan untuk menembus pintu restoran tak berjalan mulus, tak membuatnya mundur. Ia terus mencoba lagi hari-hari berikutnya. Meski tak mudah, akhirnya ia bia menguasai pasar Pangandaran setahun kemudian. Lalu ia mencoba menjual ikan-ikan dari Pangandaran ke Jakarta dengan menyewa truk. Berangkat jam tiga sore sampai di Jakarta tengah malam menjadi kegiatan sehari-harinya.
 Tapi dengan keuletan dan kesabarannya, setahap demi setahap usahanya terus berkembang. Setahun kemudian, dia berhasil menguasai pasar Cilacap. Tidak puas hanya berbisnis ikan laut di satu daerah, Susi mulai melirik daerah Pangandaran di pantai selatan Jawa Barat.
Ternyata, di sana keberuntungan Susi datang. Usaha perikanannya maju pesat. Jika semula dia hanya memperdagangkan ikan dan udang, maka Susi mulai memasarkan komoditas yang lebih berorientasi ekspor, yaitu lobster.
Dia membawa dagangannya sendiri ke Jakarta untuk ditawarkan ke berbagai restoran seafood dan diekspor. Karena permintaan luar negeri sangat besar, untuk menyediakan stok lobster, Susi harus berkeliling Indonesia mencari sumber suplai lobster.
Masalah pun timbul. Problem justru karena stok sangat banyak, tetapi transportasi, terutama udara, sangat terbatas. Untuk mengirim dengan kapal laut terlalu lama karena lobster bisa terancam busuk atau menurun kualitasnya.


Pemilik Maskapai. [4]

Pada saat itulah timbul ide Susi lainnya untuk membeli sebuah pesawat. Christian von Strombeck, suaminya yang kebetulan warga negara asing yang berprofesi sebagai pilot pesawat carteran asal Jerman mendukungnya.
Ceritanya, setelah menikah dengan pilot asal Jerman itu, Susi berangan-angan mengangkut ikannya menggunakan pesawat. Angan-angan itu timbul karena dengan menggunakan truk yang memakan waktu sembilan jam perjalanan, ikan-ikannya mati sesampai di Jakarta. Itulah yang membuat harga ikannya jatuh. Dengan pesawat cuma diperlukan satu jam sehingga harga ikannya pasti tinggi karena lebih segar.
Tahun 2000, Susi mencoba mengajukan pinjaman ke bank untuk merealisasikan rencana itu. Namun rencananya itu ditertawakan pihak bank dan sudah tentu pengajuan kreditnya ditolak. Baru pada tahun 2004, ada bank yang mau mengabulkan kreditnya. Dari Bank Mandiri, ia mendapat pinjaman Rp 47 miliar yang ia gunakan untuk membuat landasan di Pangandaran dan membeli dua pesawat Cessna.
Namun sebulan setelah pengoperasian pesawatnya, terjadi bencana tsunami di Aceh. Naluri kemanusiaannya terusik. Ia terbang ke Aceh untuk memberi bantuan. Pesawat Susilah, pesawat pertama yang mendarat di Aceh setelah bencana itu. Besoknya ia membawa barang-barang bantuan seperti beras, mi instan, dan sebagainya. Susi dan pesawatnya pun berkutat di Aceh mendistribusikan barang-barang bantuan.
Rencananya, ia “hanya” memberi bantuan sarana angkutan gratis selama 2 minggu, namun banyak LSM dalam dan luar negeri yang memintanya tetap di sana dan mereka bersedia menyewa pesawat Susi. Dari sanalah lahir nama Susi Air sebagai usaha penyewaan pesawat. Di sisi lain, alat transportasi itu sangat membantunya meningkatkan produktivitas perdagangan ikannya. Nilai jual komoditas nelayan di daerah juga naik.
“Nelayan bisa mendapatkan nilai tambah. Misalnya saja, lobster di Pulau Mentawai yang tadinya hanya dijual Rp 40.000 per kilo, setelah itu bisa dinaikkan menjadi Rp 80.000 per kilo saat itu,” kata Susi dilansir Persda Network.
Jadi, kebutuhan terhadap pesawat penumpang pun semakin meningkat seiring dengan ekspor yang terus bertambah. Belakangan, pesawat yang tadinya hanya untuk mengangkut barang dagangan laut, dia coba sewakan kepada masyarakat yang ingin menumpang.
“Ternyata, permintaan transportasi sangat besar karenanya kita pun mengembangkan bisnis pesawat carter ini dan Susi Air,” ujar perempuan kelahiran Pangandaran tahun 1965 ini.
Saat ini, Susi Air memiliki 50  pesawat kecil, antara lain jenis Cessna Grand, Avanti, dan Porter yang dioperasikan oleh 80 pilot. Sebanyak 26 pilot di antaranya adalah pilot asing. Maskapai Susi Air saat ini beroperasi di hampir semua daerah pelosok di Indonesia. “Yang penting kita tingkatkan layanan agar pelanggan semakin suka pada kita,” ujarnya berfalsafah.  berbagai sumber.
PT ASI Pudjiastuti Aviation operator maskapai penerbangan Susi Air tahun ini membidik pendapatan sebesar Rp400 miliar setelah mendapatkan sejumlah rute baru dan menambah beberapa  pesawat.
Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti Aviation Susi Pudjiastuti menjelaskan pada 2013 pihaknya menargetkan peningkatkan pendapatan Rp400 miliar setelah tahun lalu memperoleh pendapatan Rp300 miliar.
Pudjiastuti menambahkan pada tahun ini pihaknya menargetkan akan mendatangkan 16 pesawat yang akan digunakan untuk sejumlah rute penerbangan perintis.
“Tiga pesawat yang sudah kita kontrak senilai 6 juta Swiss Franc. Satu pesawat sudah tiba Maret 2013 dan dua pesawat lagi Mei dan Juni akan datang,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (1/5/2013).
Dia menambahkan 3 pesawat yang dibeli pada awal 2013 merupakan pesawat jenis Pilatus Porter asal Swiss.
Selain itu 10 pesawat lainnya akan didatangkan hingga akhir tahun dengan investasi mencapai US$70 juta. 
Susi Air, imbuhnya, juga pada 2013 memperoleh 30 rute penerbangan baru dan saat ini pihaknya telah melayani 200 rute penerbangan perintis.
Menurutnya pesawat baru itu akan digunakan pada sejumlah rute penerbangan antar kabupaten di Sumatra bagian Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi dan Papua.
Menurutnya saat ini pihaknya memiliki 46 pesawat dengan berbagai tipe seperti Cessna Grand Caravan, Pilatus PC-06 Porter dan Piaggio P180 Avanti. [5]



Mentri Kelautan dan Perikanan.

Setelah dilntik pada tanggal 27 oktober 2014 Susi resmi menjadi mentri kelautan dan perikanan pada presiden Jokowi yang di kenal dengan “kabinet kerja”. Susi merupakan mentri kelautan ke-6 dalam sejarah kabinet di Indonesia, sebelumnya mentri kelautan dan perikanan dipindah tangankan dari Sharif Cicip Sutarjo kepada beliau.
Pada saat ini susi merupakan seorang mentri dari kabinet jokowi yang sangat di pertanyakan kontribusinya, karena berdasarkan pendidikannya susi merupakan satu-satunya mentri yang tidak menamatkan S2-nya, bahkan susi hanya memiliki ijazah SMP karena beliau hanya menginjak dunia SMA sampai kelas 2 saja.[6]
Perhatian publik banyak tersedot ke kiprah menri wanita asal pangandaran ini. Ada saja gebrakan setiap harinya. Penguasaan materi tentang kementriannya dan skill manejerialnya mempuni. Yang juga menonjol, nyalinya yang tinggi untuk melakukan perubahan di bidangnya.
Ia seorang yang nothing to lose dengan kursi mentri yng di dudukinya, kapan saja iya siap “pilang kampung” bila lingkunga gerah menerima aksi-aksi perubahanya. Atau, bila tembok penghalang terlalu tinggi dan tebal sehingga membuatnya harus terpental.
Kita bertahap mentri model bergiliran yang harus terus mendapat suntikan semangat terlebih dukungan kekuasaan lebih besar, karena agenda yang akan diubahnya juga berdampak luas pada perubahan wajah republik ini. Susi jangan dibiarkan sendiri. Harus yang benar-banar berdiri kuat mendukungnya dari belakang.
Yang akan diperangi mentri Kelautan dan Perikanan ini adalah lapangan usaha yang penuh dengan jaringan mafianya. Betapa tidak, nilai ekonomi yang di hasilkan dari kegiatan perdagangan di sector ini luar biasa besar. Penyimpanan pasarnya sudah keterlaluan.
Mentri Susi tidak boleh di biarkan sendiri memperjuangkan semuanya. Kita harus di ambil bagian dari kesungguhannya bekerja meningkatkan harkat dan martabat para nelayan kita skla mikro, dan kita sebagi bngsa masitim. Jangan smpai kita sepetri “ayam mati di lumbung padi”. Bravo Susi ! You are not alone !. [7]



2.4 KEGIATAN SUSI PUDJIASTUTI SETELAH DI LANTIK.

Pada masa kabinet kerja Jokowi saat ini belum banyak kontribusi yang diberikan oleh para mentri-mentrinya, tapi dari beberapa sudah melakukan wasiat pemimpinya yaitu melakukan terjun langsung ke lapangan yang sering di sebut dengan istilah “blusukan”, ada yang meloncat pagar, ada yang menuju kampung halamanya.
Susi Pudjiastuti pun melakukan blusukan ke kampong halamanya di pangandaran, jawa barat, Yang di juluki sebagai kampung nelayan.
Setiba di kampung halamanya Susi Pudjiastuti pun langsung bercengkrama dengan teman semasa kecilnya, bahkan Susi sempat mengusap air matanya dengan menggunakan bajunya sendiri, saat beliau di nasehati oleh orang tua-tua di kampungnya yang sudah dianggapnya seperti guru.
Susi sempat berpidato di depan warga kampungnya dan berjanji “saya akan memberantas pihak asing yang meminjam bendera Indonesia dan mengambil hasil laut Negara kita untuk di bawa kenegara mereka”. [8]
Susi juga sudah mengadakan pertemuan-pertemuan penting dengan beberapa perwakilan Negara sahabat.
Blake (kedutaan besar AS) dan susi menggelar pertemuan selama 1 jam. Peretmuan digelar di ruangan mina bahari I, kantor kementrian kelautan dan perikanan di Jakarta, kemaren pagi. Setelah pertemuan ini, kedunya menggelar jumpa pers bersama.
Blake yang diberikan kesempatan berbicara duluan, mengaku membicarakan bnyak hal dengan susi. Namun, di tegaskan katanya, pada intinya membahas komitmen AS mendukung gebrakan yang bilakukan Susi dalam memberantas praktik pencurian ikan.
“saya mengucapkan terima kasih kepada ibu mentri. Hari ini kita sudah bekerja sama dengan Indonesia untuk memerangi illegal fisihing dan konserfasi maritime,” puji Blake.
Blake mengungkapkan, peremuan itu juga membicarakan rencana AS memberikan bantuan fasilitas infrasrtuktur kepada polisi untuk meningkatkan pengawasan laut.
Dia menegaskan, AS mendukung penegakan hukum di laut Indonesia bias lebih baik lagi. Menurtnya, laut Indonesia sangat penting karena 2/3 wilayah Negara ini merupakan lautan.
Hal lain yng dibicarakan dengan Susi ialah berebagi pengalaman dan pengetahuan. Blake bercerita, dirinya di berikan banyak pekerjaan rumah(PR) yang berat oleh Susi. “ibu mentri dan saya sudah berbagi byak data. Beliau sudah memberikan banyak sekali PR dan saya dengan senang hati akan mempelajari itu,” imbuhnya.
Selain dengan dubes AS, Susi sudah bertemu delapan perwakilan Negara-negara asing. Antara lain dengan dubes Malaysia Dato Zahrin Muhammed Hasyim, dubes Vietnam Nyuyen Xuan Thui, kuasa usaha duta besar Filipina Roberto G. Manalo, wakill dubes Australia David Engel.[9]

2.5 KAITAN MASALAH INI DENGAN MATERI CIVIC EDUCATION
Masalah pelantikan seorang mentri perempuan dapat di kaitkan dengan materi Civic Education tentang HAM, yaitu hubungan gender dan HAM. Istilah gender harus debedakan dengan jenis kelamin (seks). Gender mengacu kepada perbedaan peranan antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh budaya, sedangkan seks memiliki pengertian perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan secara biologis.[10]
Susi Pudjiastuti merupakan salah satu mentri kabinet kerja Jokowi yang berasal dari kalangan perempuan. Akan tetapi Susi pun menepiskan anggapan bahwa seorang perempuan itu bersifat lemah, dan hanya pantas bekerja sebagai ibu rumah tanggga saja.
Susi Pudjiastuti merupakan salah satu sosok kartini dalam kabinet kerja Jokowi yang memulai hidupnya dari bawah yaitu sebagai pedagang ikan, dan beranjak menjadi pemilik maskapai penerbangan hingga saat ini Susi sukses seperti  sekarang menjadi seorang mentri perempuan dalam kabinet kerja Jokowi.
Jadi, Gender bukanlah alasan untuk kita merasa lebih tinggi atau lebih rendah dari orang lain. Seperti contoh ibuk Susi Pudjiastuti, Ia menepis pandangan kita tentang peremppuan yang bersifat lemah, Ia berusaha semaksimal mungkin agar mencapi kesuksesan yang saat ini telah beliau raih.

LAMPIRAN
























BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Susi Pudjiastuti adalah mentri kelautan dan perikanan yang di lahiran di pangandaran pada tanggal 15 januari 1965. Ia merupaka anak dari Haji Ahmad Karlan dan Hajjah Suwuh Lasminah berasal dari Jawa Tengah yang sudah lima generasi lahir dan hidup di Pangandaran. Ia dibesarkan dari kempung yang dijuluki sebagai kampumg nelayan.
Sebelum menjadi seorang mentri Susi Pudjiastuti sempat menjajaki berbagi pekerjaan yang penghasilannya sangat besar, seperti menjadi penjual ikan di pasar pelelangan ikan di kampungnya, setelah memiliki suami seorang pilot, Susi mengembangkan usahnya di bidang transportasi udara yaitu pemilik maskapai SUSI AIR yang memiliki pendapatn tahun 2014 sebesar 400 milyar.
Susi pudjiastuti merupakan satu-satunya mentri kabinet kerja Jokowi yang sidak menamatkan S2-nya. Bahkan Ia hanya memiliki ijazah SMP. Karena hanya mencicipi jenjang pendidikan sampai kelas 2 SMA. Dengan riwayat pendidikan yang sangat rendah, Susi sempat dipertanyakan keridibilitasnya ebagai seorang mentri, yang jabatangya sngat penting dalam sebuah Negara karena merpakan kaki tangan dari seorang persiden.
Setelah dilantik Susi mulai melakukan gebrakanya dengan melakukan BLUSUKAN menuju kampung halamanya yang di kenal sebagai kampung nelayan. Susi juga melakukan pertemuan dengan Negara sahabat, seperti duta besar AS, dubes Malaysia Dato Zahrin Muhammed Hasyim, dubes Vietnam Nyuyen Xuan Thui, kuasa usaha duta besar Filipina Roberto G. Manalo, wakill dubes Australia David Engel.


3.2 SARAN
Semoga kabinet jokowi yang dilantik pada tanngal 27 oktober kemaren menjalankan fungsinya dengan semstinya agar terjadi keselarasan pemerintahan, kemakmuran masyarakat menjadi meninggkat.
Dengan gebrakan yang di lakukan oleh seorang wanita yang bernama Susi Pudjiastuti, semoga memotivasi kita untuk melakukan usaha dalam kehidupan kita sehingga kita mendapat kesuksesan yang ingin kita raih.




3.3 DAFTAR PUSTAKA :

Harian Rakyat Merdeka. jum’at, 7 november 2014
Kabar pagi, TV ONE. Rabu, 5 november 2014/07:15
Kabar petang, TV ONE. Kamis, 6 november 2014/18:15
http://id.wikipedia.orgwikiSusi_Pudjiastuti.htm
http://Susi Air Bidik Pendapatan Rp400 miliar pada 2013 _ Industri - Bisnis.com
http://www.mypangandaran.comartikeldetailsosok-dan-profil74susi-pujiastuti-dari-bakul-ikan-jadi-pemilik-maskapai.html
http://KOMPAS.com_Ekonomi / BisnisBisnis dan Gaya Eksentrik Susi Pudjiastuti_Senin, 27  Oktober  2014 | 15:12 WIB
Ubaedillah, 2012, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani, Jakarta Selatan : ICCE UIN Syarif Hidayatulloh




[1]  Http://id.wikipedia.orgwikiSusi_Pudjiastuti.htm
[2]  http://KOMPAS.com_Ekonomi / BisnisBisnis dan Gaya Eksentrik Susi Pudjiastuti_Senin, 27  Oktober  2014 | 15:12 WIB

[3] http://www.mypangandaran.comartikeldetailsosok-dan-profil74susi-pujiastuti-dari-bakul-ikan-jadi-pemilik-maskapai.html
[4] Ibid.
[5]  http://liputan6. Susi Air Bidik Pendapatan Rp400 miliar pada 2013 _ Industri - Bisnis.com
[6] Kabar pagi, TV ONE. Rabu, 5 november 2014/07:15
[7] Harian Rakyat Merdeka.Mentri Susi. jum’at, 7 november 2014.
[8] Kabar petang, TV ONE. Kamis 6 november 2014/18:15
[9] Harian Rakyat Merdeka.Mentri Susi Dikunjungi Dubes AS  Selam 1 jam. jum’at, 7 november 2014. Hal 13
[10] Ubaedillah, 2012, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani, Jakarta Selatan : ICCE UIN Syarif Hidayatulloh. Hal. 227

Tidak ada komentar:

Posting Komentar